Senin, 19 Juli 2010 18:52 WIB News Share :

Warga Argomulyo demo tolak SPBE

Salatiga (Espos)–Maraknya pemberitaan menyangkut elpiji meledak menyulut ratusan warga Dusun Pamot, Kelurahan Noborejo, Salatiga menggelar unjuk rasa menolak keberadaan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) milik PT Capital Realm Indonesia yang berada di dusun setempat, Senin (19/7). Warga menolak SPBE berkapasitas 50 ton tersebut karena takut menjadi korban ledakan elpiji berikutnya.

Ratusan massa berdemo di depan jalan masuk SPBE dengan membawa banyak spanduk berisi kecaman terhadap walikota dan pemerintah kota setempat. Warga juga membawa keranda mayat sebagai simbolisasi matinya perhatian pemerintah terhadap keselamatan warga dengan memberi ijin pendirian SPBE itu.

Warga mengaku belum pernah diajak berembuk maupun diberikan sosialisasi atas pembangunan SPBE yang sudah berdiri sejak Januari 2010 dan hingga kini belum beroperasi.

“Kami tak mau diplekotho. Mereka (PT CRI) datang tidak dengan baik-baik. Datang tidak ijin. Keberadaan SPBE ini sama saja menyimpan bom waktu,” Suripto, salah satu perwakilan warga dalam orasinya.

Warga menilai keberadaan SPBE di wilayah mereka mengancam keselamatan warga setempat. “Satu tabung elpiji 3 kg saja bisa bikin satu rumah hangus bagaimana kalau 50 ton?” ungkap warga lain.

Dari pantauan Espos, jarak tangki penyimpanan elpiji dengan permukiman warga sekitar 70-an meter. Pekerja SPBE memilih berdiam diri di dalam kantor dan mengunci rapat pintu gerbang masuk. Mereka tak berani menemui warga.

Perwakilan pemilik PT CRI, Sumardi, enggan memberikan komentar. Dari dalam pagar, ia hanya mengatakan aksi unjuk rasa itu terjadi lantaran warga marah keinginan mereka tak digubris Walikota, John M Manoppo. Namun tak dijelaskan keinginan yang dimaksud.

Sementara Lurah Nobrorejo, Endon Setyadji yang ikut menyaksikan warga demo, bersama Camat Argomulyo, Yayat, enggan memberi komentar kepada wartawan. Keberadaan keduanya dilihat warga yang berdemo, yang lantas memicu kemarahan warga.

Warga sempat berupaya mengejar lurah dan camat untuk diadili. Beruntung keduanya berhasil dilarikan aparat kepolisian dengan menggunakan mobil Dalmas. Warga lantas memblokade jalan masuk SPBE dengan membentangkan spanduk berisikan ratusan tanda tangan warga yang menolak SPBE, secara melintang. Warga juga meminta agar papan nama SPBE yang berdiri di jalan masuk di copot. Jika tidak, warga mengancam akan membongkar paksa papan nama tersebut.

kha

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…