Jumat, 16 Juli 2010 17:33 WIB News Share :

Yusril merasa sudah jadi incaran sejak jadi menteri SBY

Jakarta– Yusril Ihza Mahendra kini kena jerat hukum terkait kasus dugaan korupsi Sistem Administrasi Hukum Umum (Sisminbakum). Yusril merasa sudah jadi incaran sejak dirinya menjabat Mensesneg dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pimpinan Presiden SBY.

“Saya sebelum turun, saya sudah diutak-atik,” kata Yusril dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (16/7). Yusril kena reshuffle oleh Presiden SBY tahun 2007.

Yusril bercerita, sebelum turun dari jabatan Mensesneg, ia pernah ditunjuk Presiden sebagai Ketua Panitia Pelaksana Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 2005. Perhelatan akbar itu menghadirkan 144 presiden dan raja.

“Baru dua minggu belum selesai laporan, Hendarman (saat itu Jampidus/Ketua Timtas Tipikor) bilang saya sudah mau diperiksa. Saya bilang, tunda dulu sampai laporan keuangan selesai,” kisah Yusril.

Belakangan, lanjut Yusril, Hendarman menuturkan kepadanya bahwa ia disuruh Sudi Silalahi (saat itu Sekretaris Kabinet). Yusril pun lantas mengkonfirmasi ke Sudi.

“Katanya (Sudi) disuruh Presiden SBY,” ungkap Yusril.

Yusril melanjutkan, ia pun mengkonfirmasi keterangan Sudi ke Presiden SBY.

“Saya datang ke Cikeas, saya bilang, Asia afrika ini membuat nama Indonesia dan Anda harum di dunia. Saya setengah mati kerja, belum apa-apa mau di-Timtas Tipikor,” ucap Yusril.

Yusril mengaku, saat itu pun ia meminta diberhentikan oleh Presiden SBY.

“Saya minta berhenti sekarang juga. SBY tanya, ‘kenapa?’ Saya mau diperiksa. ‘Lho siapa yang mau diperiksa?’ Anda kan bilang ke Sudi untuk periksa Saya? ‘Saya tidak pernah menyuruh’,” kisah Yusril menceritakan dialognya dengan Presiden SBY.

“Sejak itu saya berpikir, saya tidak aman deh,” pungkas Yusril.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
PT. BPR Mitra Banaran Mandiri, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…