Selasa, 13 Juli 2010 20:14 WIB Wonogiri Share :

Diserang ulat, 242 Ha tanaman padi panen muda

Wonogiri (Espos)–Belum sirna serangan wereng pada tanaman padi, para petani di Kecamatan Selogiri saat ini dihantui serangan hama lain, yakni ulat grayak. Sebanyak 242 hektare (ha) dari 2.200 ha tanaman padi di kecamatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo itu harus panen muda, untuk menghindari puso.

Keterangan yang dihimpun Espos, Selasa (13/7) serangan ulat grayak terparah menimpa tanaman pagi di tiga desa, yakni Desa Nambangan, Sendangijo, Gemantar. Namun demikian, kemarin hama ulat grayak itu juga telah menyerang tanaman padi di Kelurahan Kaliancar, Selogiri. Petani asal Kaliancar, Parimin, saat ditemui Espos di sela-sela mengamai buruh tani memanen padinya menuturkan, terpaksa panen usia dini untuk menghindari puso.

“Saya punya setengah bahu dan terpaksa panen usia dini karena serangan hama wereng dan ulat grayak. Daripada dibiarkan, tanaman padi tidak panen lebih baik kam panen dini,” ujarnya.

Dia menjelaskan, saat tanaman padi optimal berkembang, padi hasil panen mencapai 31 karung atau sekitar 60 Kg. “Tetapi saat serangan hama seperti saat ini, hanya sepertiga yang berhasil dipanen atau sekitar 20 Kg. Jadi produksi turun dua pertiganya.”

Berbeda dengan Parimin, petani asal Singodutan, Gimun mengaku memiliki 2 ha tanaman padi yang terpaksa gagal panen. “Serangan hama meludeskan tanaman padi dan tidak bisa panen.”

Sementara itu, Koordinator Petuga Pertanian Lapangan Kecamatan Selogiri, Marija Hendarto saat mengonfirmasi mengakui serangan hama ulat grayak menjadi ancaman petani setelah serangan wereng. “Dua hama itu, menyerang hampir bersamaan dan untuk serangan hama ulat grayak terbesar dialami petani di tiga desa, yakni Nambangan, Gemantar dan Sendangijo.”

Menurutnya, petani di tiga desa itu telah melakukan panen padi usia muda untuk menyelamatkan produksi. “Penurunan produksi padi sekitar 15% akibat serangan hama ulat grayak. Hama ulat grayak itu biasanya menyerang tanaman kedelai, karena kedelai tidak ada maka menyerang padi dan lebih ganas,” ujarnya.

Diceritakan oleh Marija, ulat grayak memakan batang bulir padi sehingga patah dan tidak tumbuh lagi. Ditambahkan oleh Camat Selogiri, Bambang Haryanto salah satu upaya memutus siklus hama adalah dengan menanam palawija untuk musim tanam (MT) III.

“Agar siklus hama terputus, ya jerami hasil panen ditumpuk di lahan sawah dan dibakar. Namun harus bersamaan, agar wereng dan ulat grayak tidak berkembang. Kalau hanya dilakukan sepotong-potong seperti di Gemantar kemarin tidak ada artinya, karena hanya sekitar lima meter tanaman yang dibakar.”

tus

lowongan pekerjaan
Kepala Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…