Senin, 12 Juli 2010 16:02 WIB Kolom Share :

Memalukan beramai-ramai…

Raden Mas Suloyo, tetangga saya yang berdarah ningrat tapi merakyat karena telah merasa nikmat hidup di masyarakat, Sabtu malam Minggu kemarin wajahnya terlihat mangkel, mbesengut seolah ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya.

“Ada apa ta Denmas, kok kadingaren wajah sampeyan kurang cerah. Malam ini kan jagoan sampeyan, Jerman, bertanding to?” sapa Mas Wartonegoro, tetangga saya juga yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan koran lokal.

Seperti biasa, setiap Sabtu malam dan Minggu malam warung hik di kampung kami, News Cafe namanya, memang penuh dengan warga. Apalagi bersamaan dengan siaran langsung Piala Dunia, malam itu benar-benar regeng. Menjelang menyaksikan bal-balan sak jagad, kami pun berdiskusi… lebih tepatnya ngudarasa tentang berbagai hal.

”Saya ini jan mengkel tenan sama anggota DPRD Solo itu je Mas. Kalau benar berita di koran sampeyan itu, wah itu namanya sudah terrrr…laaa… luuuu. Masak mereka mau minta mobil dinas satu-satu… padhakke perusahaane mbahe dhewe wae,” kata Denmas Suloyo nerocos.

”Ah… itu kan baru wacana to Denmas. Tapi ya memang begitulah adanya. Berita itu harus benar. Itu hasil wawancara dan ada anggota Dewan yang memang bilang seperti itu,” jawab Mas Wartonegoro.

”Sekalipun itu sekadar wacana, sebetulnya itu wacana yang ketladhuk... kebablasen. Mereka itu apa nggak pada mikir rakyatnya sekarang lagi mbingungi karena harga sembako pada melambung. Bune tadi bilang, beli lombok seribu rupiah cuma dapat lima biji cuilik-cuilik… tomat itu lho satu glundung sewu rupiah. Ini lak celaka ta. Apa para wakil kita gak peduli pada hal-hal yang begini ini,” kata Denmas Suloyo makin berapi-api.

”Benar juga Denmas. Kalau saya pikir-pikir, mereka itu kurang punya rasa empati kepada rakyat yang mereka wakili. Orang bilang, sense of crisis-nya hilang,” timpal Mas Wartonegoro manas-manasi.

Saya hanya bisa mesam-mesem saja mendengarkan diskusi antara dua karib saya yang kekritisannya memang sering kali tidak bergema ke mana-mana itu. Maklum diskusi kelas kampung seperti itu gaungnya hanya sampai di wilayah warung hik, sebatas tempat wedangan. Namun substansi yang mereka bicarakan sejatinya kerap mewakili suara hati nurani warga.

Malu rame-rame

Jadi ketika sejumlah anggota DPRD Solo pekan lalu mewacanakan perlu adanya fasilitas mobil bagi para legislator, rasa keadilan mereka sebagai rakyat rupanya terusik. Apalagi menurut salah seorang anggota Dewan kendaraan dinas itu dinilai perlu karena tuntutan kerja yang semakin tinggi. Anggota Dewan bahkan menyebut bahwa anggota DPRD itu setara dengan pejabat Eselon II sehingga wajar jika masing-masing mendapatkan fasilitas kendaraan dinas.

”Mbok ya kalau minta fasilitas itu melihat situasi dan kondisinya dulu, bukan begitu Mas? Lha suasana rakyat yang terus menerus susah begini kok mereka mau hidup enak ke mana-mana pakai mobil dinas. Memangnya kalau anggota Dewan pakai sepeda motor kenapa? Kalau sudah punya mobil pribadi, mereka pakai untuk keperluan dinas, kenapa? Sudah lah sak madya saja… perhatikan itu petani yang lagi susah gara-gara padinya dipunthes hama wereng… ibu-ibu rumah tangga yang kebingungan ngecakke uang belanja karena semua kebutuhan naik,” kata Denmas Suloyo sambil memperhatikan saya.

”Wah ya jangan marah sama saya to Denmas. Ya kita berdoa saja, semoga mereka dibukakan pintu hatinya untuk menyadari mana yang seharusnya menjadi prioritas sebagai wakil rakyat,” kata saya berusaha meredakan amarah Denmas Suloyo.

Obrolan soal anggota Dewan minta jatah mobil dinas itu membuat saya teringat dengan sebuah artikel KH Cholil Bisri. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul Malu ”Rame-Rame” kyai kharismatis yang meninggal pada 2004 itu mempertanyakan tentang hubungan antara minder rame-rame atau berjamaah dengan rasa malu, memalukan, malu-maluin dan mempermalukan.

Bagi Gus Cholil, begitu kyai asal Rembang itu biasa disapa, jika dirinya sedang diserang rasa minder maka dirinya tidak akan berani mengambil risiko apa-apa. ”Saya memilih sembunyi dari orang-orang…” Tapi ini rupanya berbeda dengan prinsip sejumlah wakil kita di Dewan yang ketika minder karena tidak memiliki mobil, maka akan lebih baik berbicara apa adanya untuk meminta jatah kepada pemerintah.

”Kalau saya (atau siapa saja) sedang minder, maka kepercayaan diri saya pasti akan sirna, daripada malu-maluin atau dipermalukan orang. Orang yang tidak punya rasa malu memang kepercayaan dirinya akan over, sangat over sampai ke batas keterlaluan. Dia tidak akan pernah ’merasa tidak bisa’. Yang senantiasa melekat pada dirinya adalah ’tidak bisa merasa’. Orang yang tidak punya rasa malu yang ’tidak bisa merasa’ itu berbuat semau-maunya. Tidak pernah akan peduli terhadap (penderitaan) orang lain,” papar KH Cholil Bisri.

Kata Gus Cholil, orang seperti ini tidak mempunyai (sedikitpun) rasa sayang, apalagi kepada orang lain, kepada diri sendiri sekalipun dia tega berbuat aniaya. Kepentingan orang banyak tidak pernah ada dalam benaknya, yang ada hanyalah kepntingan pribadi. ”Yang penting dirinya enak (dan kepenak), persetan orang lain, persetan dengan segala yang membebani pundak dan perasaan orang…”

Jika dia seorang wakil rakyat, bisa jadi sesungguhnya dia tidak peduli dengan perasaan rakyat. Jika sudah begini, meminta jatah mobil dinas satu persatu untuk seluruh anggota Dewan itu sesunggunya sama maknanya memalukan diri beramai-ramai… mengajak malu bersama-sama. Malu berjamaah mungkin menjadi sesuatu yang bisa ditanggung bersama, yang penting bisa hidup lebih nyaman… Jika itu sudah menjadi pilihan, ya… silakan…

Mulyanto Utomo

Wartawan Harian SOLOPOS

lowongan pekerjaan
CV.Indra Daya Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

AGENDA PRESIDEN
Datangi Undip, Jokowi Gagas Jurusan Ekonomi Digital

Agenda Presiden Joko Widodo (Jokowi) kali ini memberikan pidato di perayaan Dies Natalis ke-60 Undip. Solopos.com, SEMARANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Universitas Diponegoro (Undip) melakukan inovasi pendidikan guna memenuhi kebutuhan menghadapi perubahan zaman di era digital seperti saat…