Senin, 12 Juli 2010 16:50 WIB Wonogiri Share :

Geram, petani Gemantar bakar sawah puso

Wonogiri (Espos)–Petani di wilayah Desa Gemantar, Kecamatan Selogiri melakukan upaya terakhir memberantas hama wereng dengan membakar lahan mereka yang telah puso alias gagal panen. Mereka geram karena berbagai upaya yang telah dilakukan tak berhasil menghentikan serangan wereng.

Langkah itu sekaligus sebagai upaya eradikasi atau pemusnahan total hama wereng agar tidak menyerang lagi pada masa tanam (MT) berikutnya. Informasi yang diperoleh Espos dari Kepala Desa Gemantar, Sunarno, ada 129 hektare lahan sawah yang kena serangan hama wereng cokelat dan sebagian dari lahan itu kini telah puso.

“Lahan itu tidak semuanya puso. Ada sebagian yang masih hijau tapi itupun sepertinya sudah tidak bisa diharapkan lagi. Dalam beberapa hari ke depan pasti sudah akan kering dan mati. Petani berharap lahan yang puso didata dan diberi keringanan pembayaran PBB,” ungkapnya, saat ditemui Senin (12/7).

Pantauan Espos, Senin, pembakaran lahan diawali dengan membabat tanaman padi yang telah kering kemudian ditumpuk. Mereka harus menggunakan bensin untuk merangsang api karena tanah di bawah tanaman itu masih basah sehingga api tidak akan merambat kalau tidak dirangsang dengan bensin.

Salah satu petani pemilik sawah yang dibakar, Senin (12/7), Sugiyo, warga Dusun Kenangan RT 2/RW IV Desa Gemantar mengatakan, sejak serangan pertama hama wereng cokelat awal Juni lalu, dirinya sudah melakukan penyemprotan pestisida sebanyak 12 kali. Namun, tanaman padinya tetap saja mengering dan akhirnya mati sebelum bisa dipanen.

“Selain menyemprot saya juga sudah berupaya lain. Misalnya dengan menyiram lahan dengan solar. Upaya saya sudah benar-benar maksimal tapi saya tetap tidak bisa panen. Geram saya jadinya,” ujarnya.

Dia berharap pada MT III nanti ada bantuan dari pemerintah berupa benih, entah itu padi ataupun palawija. Dia juga berharap upaya dari pemerintah agar kejadian seperti pada MT II itu tidak terulang lagi.

Anggota DPRD dari wilayah Selogiri, Samino, ditemui di lokasi pembakaran lahan mengatakan, sudah diusulkan adanya tambahan dana senilai Rp 80 juta dalam APBD Perubahan untuk pasokan obat-obatan, pestisida dan sebagainya. “Kami berharap pada MT III nanti, Dispertan selalu mengawal mulai dari pembenihan, sehingga jika ada masalah bisa langsung diatasi,” katanya.

Terpisah, Camat Selogiri, Bambang Haryanto mengatakan, pembakaran lahan itu memang perlu dilakukan untuk eradikasi hama wereng sekaligus persiapan MT III. Pihaknya mencatat, pada MT II, total lahan yang terserang wereng luasnya 750 ha, 17 ha di antaranya puso, 80 ha rusak berat, 200 ha rusak sedang, dan 453 ha rusak ringan.

shs

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…