Minggu, 11 Juli 2010 16:03 WIB News Share :

KH Idham Chalid dan pencetak para tokoh nasional


Jakarta–
Sosok KH Idham Chalid memang cukup terkenal di dunia Islam dan pesantren. Sebagai seorang kiai dan politisi, KH Idham banyak menelorkan muridnya menjadi tokoh-tokoh nasional yang diperhitungkan.

Misalnya cerita yang disampaikan oleh mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Kiai Hasyim mengaku telah mengambil hikmah dan kearifan KH Idham dalam perjalanan karirnya selama ini.

“Ketika itu saya ingat pada tahun 1967, saya datang ke Jakarta sebagai Ketua Cabang PMII. Saya memprotes Pak Idham kenapa tidak mendukung demokratisasi Indonesia di awal Orde Baru,” kenang Hasyim kepada detikcom, Minggu (12/7).

Namun rencana protesnya itu pun akhirnya luluh setelah Hasyim diterima langsung oleh KH Idham di Gedung DPR dan dijelaskan alasan sikapnya. Sejak saat itu penghormatan kekaguman Hasyim semakin bertambah setelah mendengar penjelasan dari KH Idham.

“Saya diterima Pak Idham dan saya tumpahkan uneg-uneg saya ketika itu. Beliau tetap tenang mendengarkan dan menjawab dengan tenang. ‘Hasyim kita baru saja selesaikan komunis, sisanya masih panjang. Jangan diminta demokrasi dalam saat yang sama. Nanti demokrasi ada waktunya sendiri’,” kata Hasyim menirukan KH Idham.

“Allah menyelamatkan satu persatu, tidak sekaligus, demikian menurut Imam Ibnu Athoillah (pengaram kitab Fushusul Hikam) Biarkan Pak Harto berkuasa, setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Yang saya khawatirkan justru puluhan tahun yang akan datang, kita akan menghadapi kemunafikan, dan saya takut NU tidak mampu menghadapinya karena racun terasa madu” kata Hasyim menirukan Pak Idham.

Hasyim pun melanjutkan ceritanya, “Keluar dari ruang Pak Idham saya langsung lemes. Semoga Allah menerima Pak Idham dengan khusnul khotimah,” tegasnya.

Sentuhan KH Idham Chalid juga menjadikan sosok seperti Suryadharma Ali dan Zainudin MZ menjadi seperti sekarang ini. “Menteri Agama (Suryadharma Ali) dan Pak Zainuddin MZ dulu muridnya,” kata Saiful Hadi, salah seorang anak Idham saat ditemui di kediaman di Komplek Daarul Ma’arif, Cipete, Jaksel, Minggu (11/7).

Selain tokoh pesantren, KH Idham juga dikenal sebagai tokoh politik. Sejumlah jabatan di pemerintahan pernah ia pegang. “Dulu bapak pernah jadi Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPA, Menkesra (sekarang Menkokesra),” cerita Saiful.

Idham merupakan salah satu pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia pernah menjabat sebagai Presiden PPP (sekarang Ketua Umum) tahun 1973. KH idham juga pernah menjabat ketua umum PBNU selama 3 periode dari sejak tahun 1970 an.

KH Idham meninggal pada usia 88 tahun di kediamannya di Cipete pukul 08.00 WIB. Ayah dari 16 anak dan 40 cucu ini meninggal karena sakit.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…