Jumat, 9 Juli 2010 16:31 WIB Hukum Share :

Polres Kepulauan Seribu cari korban tabrakan kapal

Jakarta— Kepolisian Resort Kepulauan Seribu, Jakarta  masih terus mencari korban tabrakan antara kapal puskesmas keliling dengan alat penangkap ikan, cumi, dan udang(bagan), di perairan Pulau Ayer di Kepulauan Seribu, Rabu (7/7).

Korban yang hilang tersebut diketahui bernama Saefudin alias Tejo, 30, yang merupakan penumpang kapal puskesmas keliling.

“Pagi tadi, sekitar pukul 06.00 WIB, lima orang anggota kami berangkat dengan sebuah kapal patroli untuk melakukan pencarian di sekitar  perairan Pulau Anyer hingga Pulau Untung Jawa. Bila belum ditemukan, pencarian akan diteruskan hingga ke Pulau Kelapa,” ujar Kapolres Kepulauan Seribu, AKBP Hero Henrianto Bachtiar, Jumat (9/7).

Sejauh ini, Polres Kepulauan Seribu telah memeriksa lima orang saksi yaitu dua orang nelayan bagan dan tiga orang anak buah kapal (ABK) Puskesmas Keliling milik Suku Dinas Kesehatan Kabupaten  Kepulauan Seribu itu.

AKBP Hero Henrianto mengemukakan dari hasil pemeriksaan diketahui para nelayan tersebut sedang mempersiapkan peralatan bagan.

Namun mereka, lanjut Hero, sepertinya belum sempat menyalakan alat penerangan seperti lampu petromaks.  “Menurut nahkoda kapal puskesmas keliling yang bernama Kasim, 60, saat itu cuaca cerah, sayangnya pemandangan di sekeliling cukup gelap,” katanya.

Padahal, lampu sorot di kapal diketahui rusak. Kondisi saat kejadian membuat kapal Puskesmas , yang saat itu berkecepatan 23 knot langsung menabrak bagan. Akibat tubrukan cukup kencang tersebut , kaca sebelah kiri kapal, tepatnya pada haluan belakang menjadi pecah.

Dugaan sementara, kata Hero, Tejo terlempar keluar melalui kaca tersebut. “Pada bagian pecahan kaca yang masih menempel di kapal, ditemukan sobekan daging. Dugaan sementara itu adalah daging dari tubuh Tejo,” terangnya.

Selain itu, menurut keterangan ABK kapal , sesaat setelah insiden tabrakan tersebut, pada bagian mesin kapal di belakang kapal, terdapat banyak ceceran darah.

Berdasarkan keterangan Kasim, yang juga merupakan nahkoda kapal kesehatan itu , tabrakan tersebut terjadi saat kapalnya sedang menuju Pulau Pramuka untuk menjemput seorang pasien. Namun kapal yang berangkat dari Dermaga Marina Ancol itu, berencana mampir ke Pulau Panggang untuk menjemput dokter.

Ternyata sesampai di perairan Pulau Ayer, kapal menabrak bagan. “Lampu di bagan belum dinyalakan. Sementara malam itu, langit cukup gelap, sehingga tidak terlihat ada bagang,” kata Kasim di Mapolres Kepulauan Seribu, Kalibaru, Jakarta Utara.

Menurut Kasim, para ABK kapal biasanya siaga di Pulau Panggang. Namun pada Rabu (7/7) siang mereka harus mengantar seorang pasien ke Jakarta, sehingga posisi terakhir kapal ada di Dermaga Marina.

Ternyata, Rabu malam, mereka menerima panggilan lagi untuk menjemput pasien di Pulau Pramuka. Setelah terjadinya  insiden tabrakan tersebut Kasim tidak mengetahui nasib pasien yang semula akan dijemputnya di Pulau Tidung.

“Ada kemungkinan pasien itu dijemput oleh kapal lain. Kesulitan menjemput orang sakit, sering terjadi di Kepulauan Seribu,” ujarnya.

ant/rif

lowongan pekerjaan
CV. HORISON, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…