Kamis, 8 Juli 2010 14:49 WIB Ekonomi Share :

Komisi VI desak Pemerintah dan Pertamina tarik elpiji 3 Kg

Solo (Espos)–Pemerintah dan Pertamina didesak segera menarik tabung elpiji 3 kilogram yang tidak standar, dan melengkapi semua stasiun pengisian bahan bakar elpiji (SPBE) tabung 3 kilogram dengan alat retest.

Dengan tidak menyediakan alat retest di stasiun pengisian, berarti pemerintah dan Pertamina telah menyerahkan resiko kebocoran kepada masyarakat.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima, di sela-sela Sidak di salah satu agen elpiji di Kota Solo, yakni di PT Meryspa, Nusukan, Kamis (8/7). Pada kesempatan tersebut, ditemukan ratusan tabung elpiji 3 kilogram siap edar yang tidak layak secara fisik.
Barang-barang tersebut dikirim dari SPBE. Ketidaklayakan tabung, juga terlihat dari banyaknya tabung yang tahun produksinya masih tahun 2007. Yang berarti sudah tiga tahun tidak masuk ke pabrikan untuk retest maupun ditera ulang. Bahkan, ada tabung yang tidak ada standar nasional Indonesia (SNI).

Seperti diketahui, bahwa di setiap SPBE saat ini belum memiliki alat retest untuk mengecek kelayakan penggunaan tabung. “Untuk elpiji 3 kilogram belum ada. SPBE pun belum ada. Retest harus dikembalikan ke pabrik pembuatan tabung. Ini tentu yang harus disikapi pemerintah dan Pertamina,” tutur Aria, kepada wartawan di sela-sela Sidak, kemarin.

Aria menekankan, program konversi saat ini harus di-hold dulu. “Anggaran untuk konversi saya nilai muspro. Kami akan mengajukan hold untuk program ini, agar pemerintah bisa menyiapkan sistem yang lebih menjamin kualitas program dan barang.” Pemerintah dan Pertamina diminta untuk tidak terus melakukan ekspansi tetapi pelaksanaan konversi di lapangan carut marut bahkan dengan ketidaksiapan ini banyak merugikan masyarakat karena kasus ledakan.

Sementara itu, Manager Operasional PT Meryspa, Hendratmo, kemarin menyebutan kesulitan dari agen untuk memantau kelayakan tabung adalah tidak adanya alat retest. “Kami melihatnya secara manual, hanya dicelupkan ke bak air. Per hari, rata-rata kami menerima reject tabung tak layak dari konsumen berkisar 10 hingga 15 tabung dari 2.000-an tabung yang kami edarkan.”

Ia pun mengakui, tabung-tabung yang dikirim dari SPBE itu pasti ada yang tidak layak. “Tapi, pada dasarnya kami tidak tahu. Kami tahu hanya dengan adanya jaminan dari SPBE,” ujar Hendratmo.

Selain ke agen, Sidak yang juga diikuti Anggota Komisi XI DPR RI, Mohammad Hatta, juga dilanjutkan ke beberapa ritel yang menjual asesoris tabung. Di Toko Manis, yang berlokasi di Jl Ketandan Solo, Aria mengatakan asesoris selang dan regulator tabung seperti yang dibagikan pada saat konversi semuanya tidak standar untuk digunakan. Jadi, jika dipasaran masih ditemukan barang tersebut, itu yang disebutkan tidak standar. Karena, saat digunakan mudah melepuh.

haw

lowongan pekerjaan
PT. Jaya Sempurna Sakti, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…