Kamis, 8 Juli 2010 21:03 WIB Solo Share :

Keraton Kasunanan Surakarta gelar tingalan jumenengan

Ini hanyalah satu di antara sembilan upacara adat yang menjadi ruh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Upacara itu ialah tingalan jumenengan para raja penerus dinasti Mataram. Di sana, ada sebuah ritus yang dinilai paling sakral. Bukan lantaran adanya seorang raja yang duduk di kursi atau tamu kenegaraan yang hadir.

Melainkan, karena adanya tari bedhaya ketawang, sebuah tarian mistik yang dibawakan sembilan gadis dengan iringan gendhing ketawang. “Kadang ada yang melihat jumlah penarinya bukan sembilan, melainkan sepuluh penari,” bisik salah satu tamu upacara adat tingalan jumenengan ke VI PB XIII Hangabehi di Sasono Sewoko Keraton Kasunanan Surakarta, Kamis (8/7).

Bedhaya Ketawang adalah salah satu tarian Jawa klasik yang mengisahkan legenda kehidupan manusia mulai kelahiran, perjalanan hidup, hingga alam setelah kehidupan. Sumber lain menyebutkan bahwa tarian ini sebagai bentuk tarian mistik yang melibatkan penguasa laut selatan, Nyai Roro Kidul. Tak ada yang tahu persis siapa penciptanya. Namun, tarian ini diyakini memiliki makna yang sakral.

“Inti tingalan jumenengan itu ya di tarian ini. Sebab, tarian ini mengisahkan perjalanan hidup manusia,” kata KP Satrio Hadinagoro, pengageng III Pariwisata dan Museum Keraton Kasunanan Surakarta.

Di tengah kesakralannya, pemberian gelar ini kerapkali mendapatkan cibiran dari masyartakat lantaran muncul anggapan bahwa siapapun mereka seakan begitu mudah mendapatkan gelar kehormatan.

“Kalau kami menilai, gelar kehormatan itu bisa bermakna juga sarana memotivasi para artis agar kian tekun menjaga tradisi leluhur,” terang Satrio saat ditanya alasan pemberian gelar kehormatan kepada Julia Perez dan Syahrini.

Selain itu, polemik dualisme raja yang terus meruncing juga ditengarai menjadi pemicu sepinya para tamu undangan yang hadir dalam tingalan jumenengan. Tahun 2009 lalu, sedikitnya seribuan undangan hadir dalam acara tersebut. Namun, kali ini hanya sekitar 500-an undangan yang hadir.

“Sepinya tamu undangan kali ini menurut kami bukan karena dualisme raja. Namun, memang bisa karena pelaksanaan di acara jam kerja,” timpal Satrio.

asa

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…