Kamis, 8 Juli 2010 12:59 WIB News Share :

150 Peneliti asing teliti organisme bawah laut

Kendari–Sedikitnya 150 peneliti dari berbagai perguruan tinggi negara asing sedang meneliti organisme bawah laut di perairan laut Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Dua di antara peneliti tersebut adalah Prof Dr Bernard dari Essex Univerrsity, salah satu perguruan tinggi terkemuka di Inggris, dan Klaiten pengusaha hasil budi daya terumbu karang yang memasok kebutuhan karang di pasar Eropa sebanyak 250 juta anakan karang per tahun.

“Mereka datang di Wakatobi saat peresmian laboratorium organisme bawah laut Wakatobi,” kata Bupati Wakatobi Hugua, di Wakatobi, Kamis (8/7).

Menurut dia, selama di Wakatobi para peneliti dari mancanegara tersebut meneliti keragaman terumbu karang, termasuk organismen bawah laut di perairan setempat, serta jenis lainnya yang sudah hampir punah, dan mencari jenis biota laut yang tidak ditemukan di wilayah perairan lain di dunia.

Terhadap jenis terumbu karang atau jenis organsime lain yang sudah terancam punah, para peneliti akan mengembangkannya di laboratorium organisme bawah laut yang dibangun Pemerintah Kabupaten Waktobi di Pulau Hoga, salah satu pulau di daerah itu yang memiliki terumbu karang terindah di dunia.

Bupati Hugua mengatakan pihaknya membangun laboratorium organisme bawah laut itu untuk menantang para peneliti dari berbagai perguruan tinggi Nasional maupun luar negeri guna melakukan penelitian organisme bawah laut di Wakatobi.

Sayangnya, menurut dia, di antara 150 peneliti trsebut, tidak satu pun berasal dari perguruan tinggi nasional. Padahal, kata Hugua, pihaknya sudah mengirim undangan ke sejumlah perguruan tinggi nasional.

“Saya sangat menyayangkan sikap pengelola perguruan tinggi kita yang tidak peduli dengan wahana yang bisa menjadi pusat penelitian organisme bawah laut ini. Justru yang peduli peneliti dari perguruan tinggi Eropa,” kata Hugua.

Ia mengatakan pihaknya dalam mengelola laboratorium bawah laut tersebut bekerja sama dengan Klaiten, pengusaha karang dari Inggris, serta Prof Dr Bernard dari Essex Univerrsity.

Melalui laboratorium itu, pengusaha dan peneliti terumbu karang tersebut akan mendidik masyarakat Wakatobi, terutama komunitas suku bajo dengan teknologi bidudaya karang terutama menyangkut tehnik penanaman karang, jarak tanam, media tanam, teknologi penanganan pascapanen dan teknologi pengepakan hasil panen.

ant/rif

lowongan pekerjaan
PT. ATALIAN GLOBAL SERVICE, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…