Rabu, 7 Juli 2010 19:55 WIB News Share :

Muhammadiyah tolak pluralisme yang samakan semua agama

Yogyakarta–Muhammadiyah memandang perlunya pengembangan pluralisme dan toleransi beragama dan toleransi peradaban  antar bangsa. Namun, Muhammadiyah menolak pluralisme yang menyamakan semua agama.

Bagi Muhammadiyah, pluralisme dan toleransi merupakan salah satu upaya untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial bangsa ini. Hal ini menjadi salah satu butir rekomendasi Muktamar ke-46 Muhammadiyah.

“Muhammadiyah mendukung dan mengembangkan pluralisme, tapi menolak pluralisme yang mengarah pada sinkretisme dan menyamakan semua agama,” kata pimpinan sidang pleno IX yang membahas dan mengesahkan hasil sidang komisi Muktamar ke-46 Muhammadiyah, Din Syamsuddin, di Sportorium UMY di Jalan Lingkar Selatan, Tamantirto, Bantul, Rabu (7/7/2010).

Rekomendasi itu dihasilkan oleh Komisi E yang menangani masalah keumatan, kebangsaan dan isu-isu strategis. Komisi E memandang perlunya kerja sama antarumat beragama, khususnya antarkelompok umat Islam. Sikap toleransi, saling menerima keberadaan kelompok lain perlu dikembangkan untuk menciptakan suasana sosial yang kondusif.

Din mengatakan hidup bermasyarakat harus mengakui keberadaan agama lain dan menyadari juga ada kebenaran di setiap agama. Namun yang harus disadari adalah tidak boleh ada penyamaan kebenaran antaragama.

“Keberagaman agama harus diakui, hidup saling menghormati dan toleransi. Mengenai kebenaran biarkan sesuai dengan keyakinan masing-maisng. Lakum diinukum waliya diin,” ungkap guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Din menambahkan pemahaman agama Islam yang substansial perlu dikembangkan untuk menghindari komoditasi agama. Sebab komoditasi agama hanya akan merusak makna dan hakekat agama.

Sedangkan mengenai peran di kancah internasional, kata Din, Muhammadiyah juga akan aktif menjadi pelopor dialog antarbangsa dan peradaban untuk menciptakan perdamaian dunia. Kemajuan zaman saat ini dan perkembangan peradaban antar bangsa telah melahirkan gesekan dan tidak menutup kemungkinan lahir konflik.

“Kerja sama dan dialog diperlukan untuk meminimalkan efek gesekan antar peradaban dan Muhammadiyah akan berperan aktif,” katanya.

Menurut Din, untuk meningkatkan kesadaran dialog antarperadaban, Muhammadiyah juga aktif berkonsultasi dengan PBB terkait kasus gesekan antarperadaban. Bersama tiga negara, yaitu Inggris, Jepang, Turki serta dua organisasi sosial lainnya, Muhammadiyah terlibat aktif dalam penyelesaian konflik di Filipina Selatan.

“Kita juga mengumpulkan tokoh dunia, tidak hanya tokoh agama, tetapi juga tokoh bisnis, ilmuwan dalam acara World Peace Forum dan tahun ini kita (Muhammadiyah) sudah menyelenggarakan World Peace Forum untuk kali ketiga,” jelas ketua umum PP Muhammadiyah 2010-2015 terpilih itu.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
PT. BPR Mitra Banaran Mandiri, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (16/01/2018). Esai ini karya Evy Sofia, alumnus Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah evysofia2008@gmail.com.  Solopos.com, SOLO—Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another,…