Rabu, 7 Juli 2010 15:09 WIB Solo Share :

Kurang terawat, 30% koleksi Lokananta rusak

Solo (Espos)–Sedikitnya 30% koleksi Lokananta mengalami kerusakan. Koleksinya di antaranya master piringan hitam lagu-lagu dan pidato, serta peralatan rekaman. Kerusakan ini karena tidak ada biaya perawatan.

Kepala cabang Perum PNRI/ Lokananta, Pendi Haryadi mengatakan, pemerintah pusat tidak memberikan anggaran untuk perawatan benda-benda lama itu. “Nol rupiah. Sedikit pun tidak ada,” katanya kepada wartawan, Rabu (7/7).

Ia menuturkan, Lokananta menyimpan sekitar 50.000 keping piringan hitam yang tertiri dari lagu daerah, lagu perjuangan hingga dokumen negara berupa pidato Presiden Sukarno. Sebagian dari koleksi itu, katanya, telah rusak dan berjamur akibat suhu udara. “Semestinya ada ruang khusus untuk merawat piringan hitam itu, yaitu ruang ber-AC 24 jam,” katanya. Namun karena terkendala biaya, AC hanya dihidupkan saat jam kerja.

Ia berharap Pemerintah Kota Solo ataupun pihak swasta bersedia berinvestasi di Lokananta dengan memanfaatkan benda-benda bersejarah itu. Sementara itu Kabid Seni Budaya sejarah dan Purbakala Disbudpar Kota Solo, Mufti Raharjo, menilai, koleksi Lokananta sangat bernilai dan menjadi salah satu ikon kota Solo. Ia mengungkapkan Lokananta memiliki daya tarik wisatawan yang besar karena koleksi benda musik yang dimilikinya. “Dengan memanfaatkannya, tentu akan jadi lokasi yang menarik untuk dikunjungi,” tambahnya.

m86

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…