Selasa, 6 Juli 2010 12:41 WIB Sepak Bola Share :

Uruguay vs Belanda, Laga tim tak terkalahkan

CAPE TOWN— Laga di babak semifinal yang mempertemukan La Celeste Uruguay kontra De Oranje Belanda, Rabu (7/7) dini hari WIB, akan menjadi pertarungan dominasi sepak bola dua benua.

Uruguay tampil mewakili kawasan Amerika Latin, sedangkan Belanda merupakan representasi dari kekuatan sepak bola Eropa. Laga ini bakal sangat prestisius, mengingat kedua tim sama-sama mengantongi rekor sebagai tim yang tak terkalahkan di putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

Apakah Belanda, yang kini lebih memilih menerapkan gaya bermain pragmatis, bisa menjinakkan Uruguay? Atau sebaliknya Uruguay yang sedang dalam kondisi on fire mampu membalik prediksi banyak kalangan yang lebih menjagokan Belanda sebagai pemenang.

Ketepatan strategi yang diracik pelatih kedua tim, kedisiplinan para pemain di lapangan dan tidak melakukan banyak kesalahan, akan menjadi faktor penentu tim mana yang pantas tampil sebagai pemenang. Di samping tentunya nasib baik juga turut berperan. Yang jelas, selain ambisi memburu gelar, kedua tim sama-sama siap bermain habis-habisan demi menjaga rekor sebagai tim tak terkalahkan.

Kiper
Uruguay        Belanda
Fernando Muslera        Marteen Stekelenburg
16 Juni 1986    Lahir    22 September 1982
11    Caps    32
Lazio (Italia) Klub     Ajax (Belanda)

Mengenakan nomor punggung 1, Fernando Muslera mengemban tugas berat yakni menjaga kesucian gawang Uruguay saat menghadapi Belanda di laga semifinal nanti. Tak boleh ada kesalahan sedikit pun jika juara dunia dua kali ini ingin lolos ke partai puncak.

Penampilan gemilangnya bersama Timnas Uruguay di ajang Copa Libertadores 2007, berhasil mengangkat nama kiper berpostur tubuh 190 cm ini. Klub Italia, Lazio, akhirnya kepincut dengan penampilannya yang kemudian mengontrak Muslera pada tahun yang sama. Dengan perjuangan yang tak bisa dibilang mudah, pada awal 2009 ia berhasil mendapat kepercayaan menjadi kiper utama The Roman, julukan Uruguay, hingga saat ini.

Penampilan Muslera di Piala Dunia Afrika Selatan lumayan baik. Dari lima laga yang telah dijalani, jala Uruguay hanya kebobolan dua gol, diluar drama adu penalti. Ia hanya kebobolan saat menang melawan Korea Selatan di babak 16 Besar dengan skor 2-1 dan kontra Ghana di perempat final (1-1) sebelum akhirnya menang lewat adu penalti. Fakta ini menunjukkan Muslera bukan lawan mudah bagi para penyerang Belanda.

Kiper Belanda, Marteen Setekelenburg, juga bukan kiper kacangan. Meski rekor kebobolanya satu gol lebih banyak dari Muslera, Stekelenburg telah menunjukkan kapasitasnya sebagai kiper terbaik Belanda setelah berhasil meredam serangan juara dunia lima kali, Brazil, untuk melangkah ke semifinal.

Pemain setinggi 194 cm ini kali pertama mengenakan seragam De Oranye, julukan Belanda, pada 2002 kala dia masih berusia 19 tahun. Memang cukup sulit baginya untuk bisa lepas dari bayang-bayang seniornya, Edwin van der Sar, kala itu. Namun dengan segudang pengalamannya, ia tak lagi canggung mengawal gawang Oranye tetap bersih.

Bek
Uruguay        Belanda
Diego Lugano        Geovanni van Bronckhorst
2 November 1980    Lahir    5 Februari 1975
47    Caps    104
Fenerbahce (Turki)     Klub    Feyenoord (Belanda)

Di antara skuat asuhan Oscar Tabarez, Diego Lugano bisa jadi merupakan pemain yang layak dijuluki Garra Charua, ungkapan khas Uruguay yang menunjukkan semangat tempur tinggi. Kelihaian dalam melakukan man-marking, tangguh saat duel di udara dan mampu mengendalikan pemain lain, membuat Lugano merupakan pemimpin alami di tubuh La Celeste.

Debutnya bersama Timnas Uruguay dimulai pada 1999, saat pelatih Hugo De Leon melihat potensi pemain yang memiliki nama kecil La Tota ini. Di Piala Dunia 2010, Tabarez yang mulai memegang kendali penuh atas Uruguay sejak 2006, mempercayakan ban kapten kepada Lugano. Ia selalu masuk sebagai starter.

Hal yang menghalangi Lugano turun ke lapangan hanyalah cedera atau sanksi larangan bermain. Sebelum di Piala Dunia ini, ia juga menjadi pemimpin Uruguay di lapangan hijau kala melakoni Copa Amerika dan berakhir di posisi keempat. Ia menjadi tulang punggung Uruguay kala itu. Lugano juga berandil besar atas lolosnya juara La Celeste dengan membekap Kosta Rika di babak play-off kualifikasi.

“Piala Dunia ini impian terbesar saya.” Kalimat tegas itu diungkapkan sang kapten Oranye, julukan Belanda, Geovanni van Bronckhorst, pertengahan tahun lalu. Ia mengenakan ban kapten setelah Bert van Marwijk mengambil alih jabatan pelatih Belanda pada musim panas 2008.
Penampilan full-back Feyenoord ini di Piala Dunia bakal menjadi akhir kisah percintaannya dengan Timnas Belanda yang telah terjalin selama 14 tahun. Pastinya, ia ingin mengakhiri karier sepak bola internasionalnya dengan manis. Ini akan menjadi motivasi tersendiri bagi Van Bronckhorst untuk menjadikan Piala Dunia ini miliknya.

Berbekal 104 kali penampilan internasional, tak perlu meragukan pengalaman dan kapasitas Van Bronckhorst. Keberadaannya di lini belakang, memberikan rasa aman bagi rekan setimnya.

Tengah
Uruguay        Belanda
Diego Perez        Wesley Sneijder
19 Mei 1980    Lahir    9 Juni 1984
55    Caps    66
Monaco (Prancis)    Klub    Inter Milan (Italia)

Diego Perez merupakan sosok yang paling memenuhi ciri khas gelandang Uruguay, kerja keras tak kenal lelah dan berani untuk melakukan duel satu lawan satu. Kecerdasaan, kejelian menerapkan taktik dan kepribadiannya yang ramah, menjadi nilai lebih pemain berusia 30 tahun ini. Namun di antara sejumlah kelebihan itu, yang paling mencolok kelihaiannya memblokade serangan lawan di sektor tengah, menjadikan Perez bak batu karang yang sulit ditembus pemain lawan.

Di laga perempat final, Perez bakal berhadap-hadapan dengan gelandang serang lincah yang dimiliki skuat Belanda, Wesley Sneijder. Kontribusi Perez di lini tengah dengan tidak membiarkan para pemain Belanda menguasai lapangan tengah, akan sangat vital bagi Uruguay.

Tentu saja hal ini tak akan mudah, mengingat gelandang tengah Belanda yang dimotori Sneijder selama ini tampil cukup dominant atas lawan-lawan mereka. Sedangkan bagi Sneijder, menghadapi The Roman akan menjadi tantangan tersendiri. Berhasil menjadi man of the match dalam laga akbar melawan Brazil, lewat dua golnya yang mengantarkan Belanda ke semifinal, torehan yang sama pun ingin ia ulangi.

Tahun ini bisa dikatakan milik gelandang berkepala pelontos itu. Di tataran klub, Sneijder berhasil mengantarkan Inter Milan menggenggam tiga titel juara sekaligus dalam satu musim, termasuk juara Liga Champions. Apakah Piala Dunia ini akan menyempurnakan kesuksesannya, jelas itu yang bakal Sneijder cari.

Depan
Uruguay         Belanda
Diego Forla        Arjen Robben
19 Mei 1979     Lahir    23 Januari 1984
67    Caps    50
Atletico Madrid (Spanyol)     Klub    Bayern Munich (Jerman)

Diego Forlan sedang berada di performa puncaknya tampil di Piala Dunia Afrika Selatan tahun ini. Kekuatan dan ketajamannya serta kesuksesan membawa Uruguay melenggang ke babak semifinal untuk kali pertama sejak puluhan tahun silam, membuktikan Forlan merupakan salah satu striker paling menakutkan yang ada saat ini.

Reputasinya sebagai penyerang mematikan kini kembali mencuat, setelah sempat tenggelam beberapa tahun lalu. Kekuatan tendangan dari dua kakinya menjadi senjata andalan pemain yang mengenakan nomor punggung 10 ini. Tiga gol telah dicetak dalam lima kali penampilannya bersama Uruguay. Setelah Luiz Suarez harus terkena larangan bermain akibat mendapat kartu merah di laga melawan Ghana, otomatis Forlan yang menjadi harapan satu-satunya Uruguay untuk membongkar lini pertahanan Oranye Belanda.

Memang jika bandingkan dengan lawannya nanti, Arjen Robben, nama Forlan kalah mengilap. Robben, yang dibeli dari Real Madrid, berhasil membawa klub raksasa Jerman, Bayern Munich, berjaya di liga domestik (Bundesliga). Robben pun nyaris menjadi juara liga Champions tahun ini, setelah berhasil mengantarkan Bayern Munich ke babak final. Sayang, Robben cs kalah lawan Inter Milan.

Robben menjadi ancaman menakutkan bagi tim yang menghadapi Belanda. Setelah beberapa saat hanya duduk di bangku cadangan lantaran cedera, Robben berhasil menunjukkan kapasitasnya sebagai penyerang tajam dengan mencetak gol saat kembali diturunkan melawan Slowakia di babak 16 Besar.

Setelah perjuangan berat Belanda menempuh capaian sejauh ini, tentu Robben tak ingin membiarkan begitu saja peluang menjadi juara dunia terlepas dari genggaman. Kecerdikan memanfaatkan peluang akan menjadi kunci siapakah yang sukses menjebol gawang lawan.

Pelatih
Uruguay        Belanda
Oscar Tabarez        Bert van Marwijk
3 Maret 1947    Lahir    19 Mei 1952
Uruguay    Kebangsaan    Belanda

Oscar Washington Tabarez menjadi salah satu pelatih yang paling diperhitungkan dan bisa diandalkan, lantaran keyakinan dan ide-ide cemerlang yang dimilikinya. Dikenal sebagai maestro permainan, Tabarez menjadi salah satu tokoh kunci di balik kesuksesan Uruguay mendobrak sejarah.

Kemampuannya meracik strategi yang sesuai dengan gaya pemain yang dimilikinya, membuat Uruguay menjadi tim tak diperhitungkan yang paling sukses di Piala Dunia 2010. Keberadaanya di skuat Uruguay telah mengubah total tim berjuluk Los Charruas itu, mulai dari tim U-17 hingga tim senior.

Menghadapi Belanda yang tak lagi menganut aliran <I>total football<I> dan memilih bersikap pragmatis, membuat Tabarez harus jeli menerapkan strategi. Biasanya, ia lebih memiliki gaya bermain menyerang yang menjadi gaya bermain khas sepak bola Amerika Latin.

Di kubu lawan, di tangan Bert Van Marwijk, skuat Belanda tak lagi tampil penuh menyerang seperti yang dilakukan semasa Marco van Basten atau pun Ruud Gullit. Marwijk lebih memilih gaya permainan berhati-hati dengan memberikan perhatian lebih di lini pertahanan, kendati tak melupakan sektor serang.

Maka tak heran jika dari lima laga yang telah dilakoni di Afrika Selatan, skuat Oranye tak mampu mencetak skor lebih dari dua gol dalam satu pertandingan. Melawan Uruguay yang senang menyerang, sepertinya Marwijk akan tetap pada gaya bermain pragmatisnya untuk bisa terus melenggang ke partai final.

JIBI/SOLOPOS/kha

lowongan pekerjaan
KISEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…