Senin, 5 Juli 2010 11:08 WIB Ekonomi Share :

TDL diprediksi 'rajin' naik tiap tahun

Jakarta–Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per 1 Juli 2010 diperkirakan akan disusul oleh kenaikan TDL di tahun-tahun berikutnya. Hal ini karena  pemerintah akan mengejar tarif listrik sesuai dengan harga keekonomian (tak bersubsidi) beberapa tahun kedepan.

“Pemerintah akan berusaha agar tarif listrik mencapai harga keekonomian secara bertahap. Artinya TDL akan terus naik, kenaikannya bisa lebih rutin, bisa setiap tahun,” kata Ketua Umum Serikat Pekerja PT PLN (Persero) Ahmad Daryoko saat dihubungi, Minggu malam (4/7).

Saat ini TDL masih berkisar sekitar Rp 600 per Kwh, jika pemerintah mengejar tarif keekonomian maka TDL akan terus disesuaikan hingga mencapai Rp 1.500 per Kwh. Kenaikan TDL tahun 2010 ini merupakan lanjutan kenaikan TDL tahun 2003 lalu.

Menurut Ahmad, jika TDL sudah menyentuh tarif keekonomiannya, sangat besar peluangnya pemerintah akan mengizinkan pelaku swasta menggeluti bisnis listrik mulai dari produksi hingga distribusi listrik di Tanah Air atau liberalisasi.

Ahmad menambahkan, kenaikan TDL sebesar 10% tidak terkait dengan kondisi keuangan PLN saat ini. Selain tidak menambah pendapatan secara signifikan, beban subsidi juga tidak sepenuhnya menjadi faktor pendorong utama sehingga TDL harus naik.

“Filosofinya bukan soal defisit APBN, tapi tarif listrik itu akan dicapai pada angka keekonomian,” tegasnya.

Menurutnya, ada indikasi keinginan mendivestasi PLN sekaligus meliberalisasi sektor ketenagalistrikan di Indonesia. Hal itu diperkuat dengan Undang-Undang No 30/2009 tentang Ketenagalistrikan yang membuka pintu pengelolaan listrik selain oleh PLN.

“UU No 20/2002 sebelumnya, tentang Ketenagalistrikan dibatalkan karena dinyatakan melanggar UUD 1945 oleh Mahkamah Konstitusi,” jelasnya.

Ia menyatakan bahwa pemerintah akan terus mendorong kenaikannya TDL  hingga mencapai Rp 1.500 Kwh atau tarif keekonomian pada 2012. Hal ini terkait dengan rencana realisasi penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) oleh PLN pada tahun tersebut sebagai bentuk divestasi.

“Ini akan berpengaruh dengan TDL yang akan naik terus, bisa jadi bukan hanya setiap tahun tapi per setengah tahun karena tahun 2012 akan IPO. Untuk IPO harus disertai tarif bagi pasar yang menarik,” ucapnya.

Dikatakannya sudah banyak perusahaan asing yang berminat membeli pembangkit listrik di Indonesia seperti Amerika,  Inggris, Prancis, Jepang dan China. Jika privatisasi PLN dan liberalisasi listrik sampai terjadi, maka TDL di Indonesia bukan tambah murah, justru semakin mahal tarifnya.

“Ini seperti terjadi di Filipina yang perusahaan listriknya dikelola oleh swasta, tarifnya sudah sampai Rp 1800 per kwh, Filipina sudah ancur-ancuran terlalu mahal, padahal dulu mereka sama seperti kita (subsidi),” imbuhnya.

dtc/rif

lowongan pekerjaan
4 orang Penerjemah fasih berbahasa mandarin & 2 orang Sopir, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…