Senin, 5 Juli 2010 15:42 WIB Sepak Bola Share :

Martino
FIFA mestinya minta maaf

JOHANNESBURG–Pelatih Paraguay, Gerardo Martino, berharap ada permintaan maaf dari Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) menyusul kekalahan timnya pada laga di babak perempat final Piala Dunia melawan Spanyol di Ellis Park Stadion, Johannesburg, Minggu (4/7).

Ia marah terhadap sejumlah keputusan wasit yang merugikan kubunya dan berdampak pada kekalahan tipis 0-1. Di babak pertama, striker Paraguay, Nelson Valdez, berhasil menyarangkan bola ke gawang Spanyol setelah menerima umpan panjang.

Namun hakim garis mengangkat bendera tanda Valdez berada dalam posisi offside, kendati tayangan ulang menunjukkan keputusan itu salah. Kemudian di babak kedua, hanya sesaat setelah striker Oscar Cardozo gagal mengeksekusi penalti, Spanyol dihadiahi tendangan penalti oleh wasit.

Martino menyatakan yang terlihat hanya terjadi singgungan kecil antara pemain Paraguay, Antolin Alcaraz, dengan striker Spanyol, David Villa, sebelum pemain baru Barcelona itu terjatuh di daerah kotak terlarang.

Wasit kemudian mengeluarkan dua kartu kuning untuk Gerrard Pique dan Alcaraz akibat terlibat perselisihan. Xabi Alonso yang menjadi algojo bagi Spanyol bernasib sama seperti Cardozo. Tendangan keduanya dari titik putih berhasil diblok kiper Paraguay.

“Bisa saya katakan keputusan wasit itu telah mengubah hasil pertandingan. Terjadi gol di babak pertama yang dicetak Valdez, dan juga penalti. Bisa jadi ada pelanggaran di sana, dan mungkin saja ia sudah diusir dari lapangan” sorot Martino, seperti dikutip soccernews.com.

“Mungkin FIFA akan meminta maaf besok untuk kesalahan ini. Saya ucapkan terima kasih jika FIFA mau meminta maaf kepada kami.” Harapan Martino agar FIFA meminta maaf mengacu pada kejadian yang menimpa Inggris dan Meksiko.

Presiden FIFA, Sepp Blatter, terpaksa harus meminta maaf kepada kedua tim setelah mereka menjadi korban keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Martino jelas merasa sangat terpukul atas kekalahan timnya.

Padahal, pria asal Argentina itu telah membawa Paraguay pada sejarah baru dengan mencapai babak delapan besar Piala Dunia untuk kali pertama. “Saya tidak merasa senang atau puas. Bagi kami, baru dikatakan mencetak sejarah jika kami bisa bertahan hingga pekan terakhir Piala Dunia,” lanjut Martinez.

“Jika menganalisis pertandingan tadi, Anda sedang menyaksikan sebuah situasi di mana kami bertanding melawan tim terhebat di dunia selama bertahun-tahun. Spanyol melenggang ke semifinal, di mana seharusnya kami yang lebih berhak,” cetusnya lagi.
JIBI/SOLOPOS/kha

lowongan pekerjaan
PT Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…