Senin, 5 Juli 2010 16:49 WIB Sragen Share :

Aktivis tewas di tahanan, keluarga sayangkan lambatnya penanganan medis

Sragen (Espos)--Penyidik Polres Sragen meminta izin keluarga aktivis tahanan Polres Sragen, Suharno alias Bayan, 50, warga Gabusan, RT 21, Desa/Kecamatan Tanon, Sragen yang tewas dalam penjara Mapolres Sragen, Senin (5/7), sekitar pukul 06.45 WIB untuk dilakukan autopsi ke Forensik UNS Solo.

Seorang keluarga aktivis, Fatimah yang sempat menjenguk ke Mapolres, Minggu (4/7), mengatakan, saat di tahanan sudah ada keluhan sakit dari korban, yakni sakit perut. Menurut dia, beberapa tahanan lainnya dan keluarga aktivis sempat meminta obat kepada aparat. “Namun tidak segera mendapatkan respon. Selebihnya saya tidak tahu, hingga akhirnya meninggal dunia pada Senin pagi,” tambahnya.

Pernyataan Fatimah dikuatkan aktivis lainnya, Rus Utaryono yang melaporkan secara resmi kepada petugas jaga di penjara Mapolres tentang keluhan korban. Selain itu Rus mengaku langsung memberitahukan kepada Kasatreskrim AKP Y Subandi agar segera memanggilkan dokter untuk memeriksa tahanan yang sakit.

“Permintaan saya itu disanggupi langsung Kasatreskrim dan akan segera dipanggilkan dokter secepatnya. Namun kenyataannya sampai meninggal dunia juga belum ada dokter yang menanganinya,” ujarnya.

trh

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…