Ilustrasi pengobatan gratis (JIBI/Dok)
Kamis, 1 Juli 2010 14:12 WIB News Share :

Tempo tegaskan gambar babi personifikasi rekening, bukan polisi

Jakarta –– Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) merasa terhina dan tersakiti lantaran institusinya disamakan dengan babi dalam sampul Majalah Tempo edisi terbaru. Namun Majalah Tempo sama sekali tidak berniat menyamakan institusi kepolisian dengan babi.

“Majalah Tempo tidak ada maksud menyamakan polisi dengan babi. Di situ digambarkan celengan. Celengan kan dari kata celeng. Celeng dalam bahasa Jawa artinya babi,” kata Direkur Produksi Majalah Tempo Thoriq Hadad kepada detikcom, Kamis (1/7).

Dalam sampul Majalah Tempo tersebut, menurut Thoriq, memang digambarkan ada penegak hukum yang sedang menggembalakan beberapa celengan babi.

“Celengan itu kan personifikasi dari rekening. Sampul itu cerminan isi yang kami sajikan dalam majalah, bahwa ada dugaan sejumlah rekening polisi dengan jumlah account yang besar,” papar Thoriq.

Celengan babi, lanjut Thoriq adalah sebuah metafora, atau perumpamaan dari apa yang menjadi inti cerita yang disajikan dalam Majalah Tempo. Sehingga tidak ada maksud apapun untuk menghina institusi polisi.

Namun demikian, Thoriq menyampaikan terimakasih kepada Kapolri yang telah memberi tanggapan atas terbutnya Majalah Tempo terbaru. Dia berharap, masalah ini bisa diselesaikan dengan tenang dan damai.

“Kalau dikatakan terhina, itu mungkin penafsiran di luar dugaan kami. Bukan dugaan kami sama sekali tidak,” imbuhnya.

Sebagai media yang profesional dan independen, Tempo sebenarnya tidak ingin mencari ribut. Melainkan tetap menjalankan fungsinya sesuai dengan UU dan tetap memberikan kritik yang sifatnya membangun.

“Kami sangat ingin kepolisian sebagai institusi yang dibanggakan bersama. Kita sejak awal mendorong dan kita dukung reformasi yang dijalankan. Dan kita sebenarnya senang ada usaha untuk perbaiki diri dari Kapolri,” katanya.

Sebelumnya BHD menyatakan adanya cover celengan babi dalam Majalah Tempo bertajuk “Rekening Gendut Perwira Polisi” sangat menyakitkan institusinya. Menurut dia, babi merupakan binatang yang haram.

“Karena digambarkan dengan sesuatu yang haram. Babi itu kan sangat menyakitkan bagi kita! Kita kan tentunya manusia biasa,” ujar BHD.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
SOLO GRAND MALL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Daya Beli Menurun

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (17/10/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, mahasiswa Program Doktor Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah Rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini beberapa kawan saya yang…