internet
Kamis, 1 Juli 2010 18:15 WIB Solo Share :

5-10% Pegawai Pemkot Solo kerap datang terlambat

Solo  (Espos)–Sedikitnya 5-10% pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tercatat kerap datang terlambat ke kantor.

Untuk mengatasinya, selain memberlakukan aturan normatif yang lazim dipakai, pada Kamis (1/7), Pemkot mengadakan kampanye disiplin pegawai. Kampanye tersebut dilakukan dengan memasang sejumlah spanduk dan banner serta menempatkan tiga personil Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di gerbang masuk dan keluar kompleks Balaikota.

Petugas,  menenteng banner bertuliskan kalimat sindiran pada PNS yang terlambat. Hal itu seperti “Malu PNS telatan masuk kantor tidak tepat waktu” dan “Anda terlambat, publik menunggu layanan..”.  Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Solo, Etty Retnowati mengatakan kampanye disiplin pegawai yang dilakukan merupakan cara lain, disamping cara normatif yang telah lazim dipakai.

Menurut catatan BKD, dari sekitar 11.000-an PNS di lingkungan Pemkot Solo, tercatat sekitar 5-10% PNS yang kerap terlambat. “Saya harus sampaikan, memang ada PNS yang sering terlambat. Kira-kira 5-10%. Mereka sudah kami beri sanksi sesuai norma. Sanksi berjenjang, mulai dari teguran lisan tiga kali, jika tidak mempan, kita beri peringatan tiga kali juga. Baru jika kepala SKPD tidak mampu dilimpahkan ke BKD,” terang Etty, saat ditemui wartawan, di Balaikota, Kamis.

Sementara, ditemui terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Suharto mengakui kampanye disiplin pegawai yang dilakukan dengan cara unik itu memang baru kali pertama digelar. Model kampanye, dinilai Budi tepat untuk menguatkan aturan normatif yang selama ini telah berlaku.

tsa

lowongan pekerjaan
KLINIK BERSALIN UTAMA RB. DR. JOHAN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit…