Jumat, 18 Juni 2010 17:18 WIB Karanganyar Share :

Polisi usut musibah longsor Tawangmangu

Karanganyar (Espos)–Polres Karanganyar turun tangan mengusut bencana longsor di Tawangmangu, Selasa (15/6) lalu. Polisi akan meminta keterangan warga dan pihak lain terkait menyangkut kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam musibah tersebut.

Hal itu seperti diungkapkan Kasatreskrim Polres Karanganyar, AKP Djoko Satriyo Utomo, di sela-sela gelar kasus di Mapolres setempat, Jumat (18/6). Dia mengatakan Polisi setidaknya akan memanggil 14 orang dari pihak berbeda untuk menggali informasi serta mendalami permasalahan tersebut.

“Setelah kami petakan, ada 14 orang yang akan dipanggil untuk diperiksa. Mereka meliputi delapan penggali yang pada saat bersamaan menambang di lokasi, pemilik tanah, serta sopir dan kenek truk angkutan hasil galian. Selain itu tiga pegawai kelurahan di Blumbang juga akan dimintai keterangan,” ungkapnya mewakili Kapolres Karanganyar AKBP Edi Suroso, kemarin.

Djoko memaparkan, pemanggilan pemilik tanah dilakukan guna menelusuri proses penjualan lahan. Sedangkan perangkat kelurahan Blumbang akan dimintai keterangannya untuk mengetahui benar tidaknya peringatan dari pemerintah kelurahan kepada para penambang liar galian C setempat.

Pada bagian lain, tim Pemkab Karanganyar menjadwalkan rapat koordinasi guna membahas tindak lanjut musibah longsor di Tawangmangu yang menimbulkan empat korban jiwa , Sabtu (19/6) ini. Rapat akan melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlidungan Masyarakat (Kesbangpolinmas).

Selain itu Badan Lingkungan Hidup (BLH), Bagian Hukum, Bagian Perekonomian, serta unsur Muspika Kecamatan Tawangmangu. “Hal itu karena penambangan liar galian C memang tidak bisa ditangani per SKPD (satuan kerja perangkat daerah), harus terpadu dan bersama-sama,” ujar Kabid Pemulihan dan Pelestarian Lingkungan Alam BLH, Sri Sukapti, ditemui ruang kerjanya.

Seperti dketahui, empat orang penambang galian C tewas terkubur di lokasi penggalian di Dukuh Dawuhan Kelurahan Blumbang, Tawangmangu, Selasa (15/6) lalu. Korban tewas adalah Warto, 36, warga Desa Beruk, Jatiyoso, Sular, 35, warga Tegalsari, Kelurahan/Kecamatan Tawangmangu, serta Wagino dan Sri Wahyuni, keduanya warga Gamping Wetan, Bandardawung.

try

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…