Senin, 31 Mei 2010 20:29 WIB Solo Share :

DBD renggut nyawa seorang Balita

Solo (Espos)–Serangan nyamuk demam berdarah <I>dengue<I> (DBD) yang mengganas di Kota Solo kembali merenggut korban jiwa. Kali ini, seorang Balita berusia 3,5 tahun, Maria Goretti Novia Ayu Kirana terpaksa mengembuskan nafas terakhirnya, Minggu (30/5) pagi setelah terserang DBD.

Balita malang berusia 3,5 tahun tersebut adalah putra warga RT 04/ RW II Kelurahan Baluwarti Pasar Kliwon, C Dwi Murjoko. Kakeknya, Suryadi ketika ditemui Espos di kediamanya masih menyisakan kesedihan mendalam. “Iya, cucu saya telah meninggal,” katanya singkat setelah itu diam tak bersedia diwawancarai.

Tokoh warga setempat, Bambang Pradotonagoro mengungkapkan, peristiwa meninggalnya bayi tersebut merupakan kali kedua akibat serangan DBD dalam beberapa pekan terakhir ini. Sebelumnya, seorang bayi dari wilayah RW VI Kelurahan Baluwarti juga tak tertolong nyawanya setelah terserang DBD.

“Kasus bayi meninggal akibat DBD sudah dua kali ini adalah beberapa pekan terakhir. Kalau sekadar bayi dan anak-anak dirujuk ke rumah sakit (RS), sudah banyak termasuk kedua putra saya,” katanya.

Atas merebabaknya DBD di kawasan tersebut, Bambang mengaku sudah melaporkannya kepada Puskesmas maupun kelurahan setempat. Meski demikian, hingga kini upaya pemberantasan penyakit DBD seperti yang diharapkan warga, yakni fogging belum pernah dilakukan. “Kami sudah ke Puskesmas. Katanya, fogging bukanlah solusi. Yang terpenting ialah PSN(pemberatantasan sarang nyamuk-red) dan pola hidup yang sehat,” paparnya.

Lurah Baluwarti, Tuti Orbawati membenarkan laporan tersebut. Diakuinya, Baluwarti merupakan kawasan endemis DBD yang bahkan sampai menelan korban jiwa.

Kepala Puskesmas Induk Gajahan, Efi Setyawati mengungkapkan, dari sejumlah kelurahan yang dia tangani, Kelurahan Baluwarti merupakan satu-satunya wilayah yang paling tinggi kasus DBD-nya. “Yang sampai menelan korban jiwa ya baru di Kelurahan Baluwarti. Di kelurahan lainnya, bisa diatasi dan sembuh,” terangnya.


asa

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…