Minggu, 30 Mei 2010 15:53 WIB Boyolali Share :

Hujan jadi kendala, petani tembakau was-was

Boyolali (Espos)–Sejumlah petani tembakau baik tembakau asepan maupun rajangan di Kabupaten Boyolali didera rasa was-was, menyusul hujan deras yang melanda Kota Susu akhir-akhir ini. Para petani khawatir tanaman tembakau miliknya mati, sehingga menimbulkan kerugian.

Salah seorang petani tembakau asal Dukuh Cikalan, Ngaru-aru, Banyudono, Sarjimo mengatakan hujan yang terus turun akan berdampak pada pertumbuhan tembakau. Seharusnya, dirinya saat ini sudah melakukan pemupukan. Namun, karena kondisi cuaca yang sering berubah dan hujan, dirinya terpaksa memundurkan jadwal pemupukan.

“Saat ini malah tahap dangir atau membalik tanah. Kalau dipaksa diberi pupuk, tanaman bisa mati karena tanah terlalu dingin,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (30/5).

Ditambahkannya, kondisi cuaca yang berubah drastis seperti saat ini memang menyulitkan para petani tembakau. Pasalnya, pada bulan Mei hingga awal Juni, pihaknya sudah menanam tembakau, karena kondisi cuaca yang sudah memasuki musim kemarau.

“Kalau sampai gagal, jelas rugi, karena tanah yang saya sewa seluas 3.500 meter ini Rp 8 juta/tahun. Biasanya satu kali masa sewa itu ditanam padi dan tembakau. Atau kalau tidak padi dua kali dan palawija satu kali,” papar dia.

Senada, salah seorang petani tembakau Desa Tarubatang, Selo, Murudin mengaku dirinya harus mengganti tanaman tembakau hingga empat kali, karena rusak akibat diguyur hujan.

“Jelas mengalami kerugian yang cukup lumayan. Kalau satu bibit dihargai Rp 500, kalau satu petak bisa hampir Rp 2 juta,” ujarnya kepada Espos, akhir pekan lalu.

Ditambahkannya, penggantian tanaman tembakau yang rusak itu harus segera dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tembakau lainnya.

“Tembakau di lereng Merbabu ini lebih banyak tembakau rajangan. Padahal, sudah ada kesepakatan dengan pembeli asal Temanggung. Sehingga, mau tidak mau harus mengganti tanaman yang rusak itu,” jelas Murudin.

fid

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…