Jumat, 28 Mei 2010 17:41 WIB Klaten Share :

Umat Budha diminta kembali pada nilai-nilai spiritual

Ribuan umat Budha melangsungkan penyambutan detik-detik menjelang Waisak 2554 Budhis Era (BE) 2010 di pelataran Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jumat (28/5).

Di bawah pimpinan Biksu Sasanarakhita dari Vihara Sakyavanaram, Bogor, Jawa Barat, ribuan umat Budha melakukan ritual Pradhaksina atau mengelilingi kompleks candi yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 782 M–792 M itu. Satu persatu mereka berjalan beriringan searah jarum jam. Mulut mereka terlihat komat-kamit membaca doa untuk memberikan penghormatan kepada Sang Budha yang telah mencapai titik kesempurnaan.

Pada malam sebelumnya, Kamis (27/5), ribuan umat Budha menggelar ritual pengarakan air suci dari Umbul Jumprit, Temanggung dan api abadi dari Mrapen, Grobogan. Sebelumnya, air suci tersebut disemayamkan di Candi Sari, sementara api abadi disemayamkan di Candi Plaosan.

Pada malam itu juga, dilaksanakan penyalaan lilin pancawarna dengan iringan lagu Malam Suci Waisak. Masing-masing lilin tersebut mempunyai arti yang berbeda. Biru memiliki makna bakti, kuning bermakna kesejahteraan, merah bermakna cinta kasih, putih bermakna kesucian dan oranye bermakna semangat.

Ketua Umum Sangha Agung Indonesia (Sagin), Nyana Suryanadi Mahatera saat ditemui wartawan di sela-sela acara pagi itu mengatakan, peringatan Waisak tahun ini bertema Kesadaran Penuh Waisak Menyadarkan Kembali Pada Nilai-Nilai Spiritual dan Nasionalisme. Dia menilai, saat ini nilai-nilai spiritual dan nasionalisme mulai luntur seiring berjalannya waktu. Untuk itu, pihaknya meminta umat Budha melakukan introspeksi terhadap diri sendiri untuk menemukan kembali nilai-nilai spiritual. “Umat Budha harus menyadari pentingnya mengembalikan jatidiri bangsa yang bermartabat. Peringatan Waisak akan memberikan makna besar, utamanya kepada diri sendiri serta kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

mkd

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…