Selasa, 25 Mei 2010 18:15 WIB News Share :

Selain uang, pejabat BI juga dibiayai melacur

Jakarta –Selain mengungkap adanya uang suap kepada pejabat BI tahun 1999, koran The Age juga menyebut biaya pelacur untuk si pejabat. Seperti diberitakan, harian The Age yang terbit di Australia mengungkap adanya dugaan suap pada dua pejabat Bank Indonesia periode 1999.

Suap itu terkait kontrak pencetakan uang senilai Rp 100.000 yang akhirnya dimenangkan Reserve Bank of Australia (RBA) atau Bank Sentral Australia. Dua pejabat senior BI berinisial S dan M disebut menerima suap.

Kasus ini disuap oleh Radius Christanto, perwakilan anak usaha RBA di Indonesia. Katanya, sejak tahun 1999 hingga 2006 adanya suap dalam jumlah besar yang mengalir ke pejabat BI, seperti yang tertulis dalam fax ke Securency International pada 1 Juli 1999.

“Tolong mengerti posisi saya, karena ini berkaitan dengan jumlah yang sangat besar, yang telah dialirkan ke rekanan kami,” jelas Radius kepada RBA.

Dalam korespondensi itu Christanto, mengungkapkan adanya kongkalikong untuk memenangkan kontrak pada tahun 1999 terkait pencetakan uang pecahan Rp 100.000 senilai Rp 500 miliar untuk Bank Indonesia.

Ia juga mengindikasikan adanya keterlibatan dua pejabat senior BI berinisial S dan M menerima 1,3 juta US Dolar atau sekitar Rp 12 miliar dari anak usaha RBA untuk memenangkan kontrak itu.

Kasus suap antara RBA dan BI terungkap setelah adanya investigasi dari rekanan Four Corners ABC. Seorang mantan karyawan Securency menyatakan ia pernah diminta untuk membayar suap ke pejabat senior di BI untuk memenangkan kontrak, termasuk membayari ongkos pelacur untuk pejabat bank sentral di Indonesia itu.

Pengungkapan bahwa perusahaan RBA dibayar, atau setidaknya membayar suap untuk pejabat Bank Indonesia akhirnya membuat Polisi Federal Australia mengembangkan penyelidikan kasus tersebut, termasuk ke Indonesia.

Sejauh ini, penyelidikan AFP difokuskan pada kasus suap yang dilakukan oleh Securency’s dengan lebih dari 20 juta dolar Australi sebagai komisi terkait untuk memenangkan kontrak pencetakan uang di Vietnam, Nigeria, dan Malaysia antara 2003 dan 2006.

inilah.com

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…