Senin, 24 Mei 2010 21:50 WIB Boyolali Share :

Terdesak sapi potong impor, harga sapi lokal turun

Boyolali (Espos)–Harga sapi potong lokal di Boyolali mengalami penurunan tajam. Kondisi itu terjadi diduga masuknya sapi impor asal Australia. Akibatnya para peternak dan pedagang sapi mengeluh karena mengalami kerugian.

Sejumlah pedagang di Pasar Hewan Singkil, Boyolali, Senin (24/5) menjelaskan penurunan harga itu terjadi hanya pada sapi potong lokal. Penurunannya antara Rp 2 juta-Rp 3 juta/ekor. Sebelumnya, harga sapi potong lokal mencapai Rp 15 juta/ekor, kini hanya berkisar Rp 12 juta-Rp 13 juta/ekor.

“Pedagang tidak mau menyetok karena kondisi harga yang terus mengalami penurunan,” ujar salah seorang pedagang Haryanto, 41 kepada Espos. Ditambahkannya, penurunan itu selain diduga masuknya sapi impor Australia ke Boyolali, juga diakibatkan bersamaan masa pendaftaran sekolah.

“Biasanya pada bulan Mei-Juli atau saat pendaftaran siswa baru, harga mengalami penurunan, karena banyaknya yang menjual sapi untuk biaya sekolah. Di samping itu, kini ada isu sapi impor yang harga murah dibanding sapi lokal,” jelas dia. Haryanto menambahkan jika hal itu tidak diantisipasi oleh pemerintah, maka dikhawatirkan harga sapi lokal akan terus anjlok dan pedagang bisa bangkrut.

Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, Dwi Priyatmoko mengakui adanya penurunan harga sapi lokal di Boyolali. Namun, penurunan itu bersifat sementara. Setelah kondisi stabil, diyakini harga akan kembali stabil. Dwi Priyatmoko menambahkan kebutuhan sapi potong di Boyolali mencapai 80 ekor/hari atau 2.400 ekor/bulan.

“Padahal jumlah populasi sapi di Boyolali berkisar 140.000 ekor, termasuk anakan dan indukan. Kalau hal itu terus menerus dipotong, diperkirakan populasi akan habis dalam masa 6-7 tahun,” papar Dwi di ruang kerjanya, kemarin.

Meski ada sejumlah sapi impor Australia masuk ke Boyolali, namun hingga saat ini Disnakan belum bisa mendata jumlah sapi impor tersebut. Tetapi, jelas Dwi, bisa dipantau dari data sapi impor yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ampel.

“Di RPH bisa sekitar 15 ekor/hari. Tetapi dari itu semua, diduga ada dumping harga sapi. Karena kualitas lebih baik dengan pakan yang lebih mahal, tetapi bisa dijual dengan lebih murah,” tandas dia.Dwi menambahkan pihaknya juga telah mengirimkan keluhan itu ke pemerintah pusat melalui Pemprov Jateng.

fid

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…