Senin, 24 Mei 2010 16:32 WIB Solo Share :

Puluhan sopir becak geruduk Dishub dan Balikota

Solo (Espos)–Puluhan sopir becak menggeruduk kantor Dinas Perhubungan (Dishub) dan Balaikota Solo, Senin (24/5), menyusul protes atas pembangunan selter Batik Solo Trans (BST), di depan Stasiun Purwosari.

Sekitar 40-an sopir becak mendatangi kantor Dishub, dan diterima Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas, Baskoro serta Kabid Angkutan, Agus Karnadi. Pertemuan sopir becak dan pihak Dishub sempat berlangsung panas, lantaran sopir becak merasa tak puas dengan jawaban pihak Dishub yang dinilai berbelit.

Mereka akhirnya melanjutkan aksi ke Balaikota. Di Balaikota, puluhan sopir becak tersebut diterima Sekretaris Daerah (Sekda) Solo, Budi Suharto. Salah satu sopir becak, yang juga koordinator aksi, Ngadino menegaskan kedatangan mereka ke Dishub untuk memprotes pembangunan selter BST yang dinilai merugikan sopir becak.

Selain itu, letak selter di trotoar dan pemakaian jalur lambat untuk lalu lintas BST juga dikritisi, lantaran tidak sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomer 6/2005 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Ngadino berharap, Dishub memindahkan lokasi selter, sehingga sopir becak dapat bekerja dengan tenang. “Kami sudah tahu soal selter, tidak perlu dijelaskan lagi. Intinya, apakah kami bisa mendapat kepastian selter akan dipindah atau tidak? Jika tidak, kami langsung ke Ballaikota,” tegas Ngadino, di kantor Dishub, Banjarsari, Senin.

Di lain pihak, Kabid Angkutan, Dishub Solo, Agus Karnadi menandaskan sebenarnya pihaknya telah mempersiapkan rencana penataan kawasan di dalam dan sekitar Stasiun Purwosari terkait penempatan selter di depan stasiun.

Lalu lintas keluar masuk kendaraan bermotor diarahkan melalui pintu di sebelah barat, persis di timur Pos Polisi. Sedangkan lalu lalang pejalan kaki, dipusatkan di jalur lain di sebelah timur. Jalur tersebut diatur lurus dari pintu keluar penumpang dari Stasiun Purwosari menuju Jl Slamet Riyadi.

“Pejalan kaki akan keluar di pintu keluar timur. Becak, kami arahkan di jalur lambat sebelah timur pintu itu. Sebelah kanan pintu ada selter BST. Jadi, pejalan kaki bisa memilih, mau naik BST atau becak. Justru dengan penataan seperti ini kami memberi kemudahan pada becak,” terang Agus, saat ditemui wartawan, setelah audiensi sopir becak dan pihak Dishub gagal mencapai kesepakatan.

Selain di jalur lambat, titik parkir becak juga dipusatkan di dalam Stasiun Purwosari. Dishub Solo memperkirakan, lokasi untuk becak di dalam stasiun mampu menampung sekitar 40 unit becak. Sayangnya, pihak Dishub tidak memperhitungkan kenyataan bahwa sopir becak di Stasiun Purwosari terbagi menjadi dua, di dalam dan di luar stasiun. Jumlah becak yang beroperasi di luar stasiun bisa mencapai 50-an unit setiap hari.

Diberitakan sebelumnya, sopir becak merasa dirugikan atas pembangunan selter tersebut. Keberadaan selter mengancam kelangsungan usaha pengemudi becak di kawasan itu  (SOLOPOS, 24/5).

tsa

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…