Senin, 24 Mei 2010 19:44 WIB News Share :

Jelang 2012, Orang mulai bangun bunker

Jakarta–Uang jutaan dolar dikeluarkan demi membangun satu tempat yang aman dari segala bencana yang, oleh banyak ahli kebumian, diperkirakan terjadi pada 2012.

Salah satu orang yang bersedia merogoh kocek adalah Steve Kramer. Ahli terapi pernafasan berusia 55 tahun ini memiliki rumah di puncak bukit yang damai di San Pedro dengan pemandangan pohon kelapa yang subur dan atap genting merah di atas laut yang berwarna biru kehijauan. Sebuah rumah yang sempurna untuk hidup di dalamnya.

Tapi, iya tidak puas dengan rumah indahnya itu. Kenapa? Karena tak bisa menyelamatkannya dari serangan teroris, kerusuhan sipil, bom nuklir, gempa bumi, dan bencana lain yang ia duga muncul pada tahun 2012.

Oleh sebab itu, dia menghabiskan uang US$12.500 (Rp 114 juta) membangun tempat cadangan bagi dia dan keluarganya di tempat penampungan bawah tanah di dekat Barstow.

“Saya benci melepaskan semuanya dan hidup di bunker,” kata Kramer sambil melirik perahu layar di sisi Pasifik.

“Saya tidak mencoba untuk mengabdi pada kegelapan dan bencana, namun kita harus menyiapkan segalanya.”

Legions of Americans menggali halaman belakang untuk tempat berlindung dari bencana bom atom selama Perang Dingin. Saat ini dengan tingginya kekhawatiran soal serangan teroris pasca 9/11, generasi baru mulai mencari sistem perlindungan bawah tanah.

“Dalam beberapa cara, iklim politis kita memiliki kesamaan,” kata Jeffrey Knopf, profesor keamanan nasional di Naval Postgraduate Naval School, Monterey, California.

“Telah banyak muncul kecemasan yang berkembang soal bahaya teroris akan menyebarkan senjata nuklir dan ini akan berlipat ganda.”

Hal ini menjadi isyarat para pengusaha dan mulai bermunculan produk tempat tinggal untuk bertahan hidup.

Larry Hall telah mengajak para kliennya yang kaya untuk membuat apa yang disebut kondominium untuk bertahan hidup di bawah tanah, di Kansas. Dia menjelaskan bahwa tempat itu memiliki 15 lantai di bawah tanah dan per unitnya dijual sebesar US$1,75 juta (Rp 15,9 miliar).

“Setelah gempa bumi dan ledakan vulkanik, orang-orang menelpon, mengatakan segala sesuatu yang dikatakan akan mulai terjadi,” kata Hall, seorang insinyur yang tinggal di Florida. “Itu membuat orang gugup.”

Sedangkan Michael Wagner menjajakan pod pribadi untuk kelangsungan hidup yang ditujukan untuk orang berlindung dari gelombang tsunami. Penduduk Oregon ini mengatakan telah mendapatkan banyak pesanan sejak gempa bumi baru-baru ini melanda Haiti dan Chile.

Banyak yang percaya dan memilih berlindung dalam bunker beton bawah tanah. Namun beberapa termasuk ayah Steve Kramer, lebih suka duduk di teras dengan minuman dingin dan menonton bencana dahsyat datang.

Namun Steve Kramer memiliki rencana lain. “Kami bukan orang gila, tetapi kali ini harus takut,” kata Kramer.

Dia membuat rute peta ke bungker, menyetok makanan kering dan mengajar anaknya berusia 12 tahun untuk naik sepeda motor trail jika mereka harus melakukan perjalanan off-road untuk sampai ke bunker.

Kramer berpikir orang lain akan mulai merasakan hal yang sama mendekati tahun 2012. Dan jika ia memiliki uang untuk memastikan bahwa keluarganya aman saat sesuatu terjadi, Kramer mengatakan, kenapa tidak menggunakannya?

“Ini masalah prioritas,” katanya. “Keluarga saya ingin bertahan hidup.

inilah/isw

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…