Senin, 24 Mei 2010 10:18 WIB News Share :

Dua hari, bayi kembar ditinggal di rumah

Jakarta–Dua bayi perempuan kembar ditinggal pergi ibunya dalam kondisi terkunci di dalam rumah kontrakan selama dua hari dua malam.

Peristiwa itu terjadi di Kampung Kaliabang Bungur RT 02/02, Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi. Pada Sabtu (22/5) petang warga setempat terpaksa mendobrak pintu untuk bisa mengambil kedua bayi berusia dua bulan itu.

Menurut Ketua RT 02/02, Ash’ari, ada laporan bahwa warganya mendengar tangisan anak-anak dari dalam rumah kontrakan milik Maturidi. Maturidi memiliki beberapa rumah petak yang tiap petaknya disewakan Rp 150.000 per bulan.

Awalnya warga mendengar tangisan bocah lelaki dari rumah paling ujung yang dikontrak suami-istri Agus ,26, dan Clan Caroline ,29. Saat didatangi, ternyata rumah tersebut dalam kondisi terkunci dari luar. Oleh warga pintu rumah itu pun didobrak.

Ternyata di dalam rumah itu terdapat dua anak lelaki dan dua bayi perempuan, sedangkan orangtua mereka tidak ada. Dua bocah lelaki itu adalah kakak beradik Steven,10, dan Glen,9, sedangkan adik perempuan mereka yang kembar bernama Deva dan Devi.

Menurut dua bocah lelaki itu, kata Ash’ari, mereka berempat sudah ditinggal pergi ibunya sejak Kamis (20/5) malam.

“Warga kemudian berinisiatif patungan uang dan membawa bayi-bayi itu ke rumah sakit untuk dirawat,” ujarnya.

Salah seorang warga yang kebetulan mempunyai nomor handphone Caroline segera meminta ibu empat anak itu untuk pulang. Pada Sabtu malam, kira-kira pukul 22.00 WIB, Caroline dan suaminya tiba di rumah petak itu.

Saat ditemui pada Minggu (23/5) pagi, Caroline membantah telah menelantarkan keempat anaknya. “Saya menengok suami di Pasar Rebo, kebetulan dia lagi nggak enak badan. Saya berangkat Jumat pagi, bukan Kamis malam, dan pulang pada malam harinya. Kemarin juga begitu, Sabtu pagi saya berangkat, malamnya sudah pulang,” ujarnya.

Agus yang mengaku bekerja sebagai kuli serabutan di Pasar Rebo mengatakan, dia hanya bisa pulang sepekan sekali dan kebetulan saat ini sedang sakit. “Saya mohon masalah rumah tangga saya ini tak jadi sorotan,” katanya.

Saat Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi bermaksud menemui mereka, Minggu sore, Caroline sekeluarga sudah tidak ada. “Saya akan kembali lagi ke sini. Kasus seperti ini tak boleh dibiarkan, harus diselesaikan demi kebaikan anak-anak,” kata Seto.

kompas.com/ tiw

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…