Minggu, 23 Mei 2010 19:22 WIB Kolom Share :

Kebangkitan atau kemerosotan nasional…

Sahabat saya saat kuliah, akhir pekan lalu menulis status di akun facebook-nya begini: “Hari ini (21 Mei) tahun 1998, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden pada pkl 09.00… suka atau tidak suka, disadari atau malu menyadari…. bahwa Indonesia kini tidak lebih baik dari zaman Soeharto. Dulu aku merasakan tentram, damai dan senang belanja karena murah… sekarang Indonesia penuh kekerasan, cruel , basa-basi… sudah 12 tahun… perlu berapa tahun lagi?!…”

Dalam sekejap, komentar pun bermunculan untuk menanggapi apa yang sedang “dipikirkan” (sesuai pertanyaan Mr Facebook kepada setiap umat facebook) kawan saya itu. Banyak yang tidak sepakat tetapi tidak sedikit pula yang setuju dengan pernyataan itu. Ya, 12 tahun sudah kita, bangsa Indonesia merasakan apa yang disebut era reformasi. Seabad lebih para pendahulu kita menyatakan kebangkitan bangsa kita. Namun secara umum, masih begitu banyak harapan rakyat yang belum terpenuhi…

Beragam isu, peristiwa, kejadian paradoksal di bulan Mei yang salah satu harinya diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional tetap saja menyesaki kehidupan kita. Soal korupsi, mafia hukum, kerusuhan yang tak kunjung padam, kekerasan, bentrokan di mana-mana, kebrutalan masyarakat, perseteruan politik tanpa etika, sungguh itu tak mencerminkan telah terjadinya kebangkitan nasional di negeri ini. Atau benar apa yang dibilang teman saya, “Ini kemerosotan… bukan kebangkitan..

Buah sistem

Di ajang jagongan News Café kampung saya, beragam isu di bulan Mei ini pun gayeng menjadi bahan diskusi, mulai soal kepergian Sri Mulyani ke Amerika, mundurnya Anggito Abimanyu dari kementerian keuangan karena tersinggung harga dirinya, wafatnya eyang Gesang hingga kerusuhan brutal di Mojokerto serta peringatan 12 tahun reformasi yang kian tanpa makna.

Soal kondisi bangsa, dikaitkan dengan berbagai isu itu seolah saling sambung menyambnug. Apa yang diungkapkan kawan saya di status facebook nya bahwa betapa sekarang Indonesia penuh kekerasan, cruel , tak ada ketentraman, penuh basa-basi pun tak tak jauh berbeda dengan apa yang diperbincangkan  komunitas jagongan kelas kampung di News Café dekat rumah saya.

“Ah… ketentraman di zaman Soeharto itu hanyalah ketentraman semu. Kalau sampeyan jujur, justru apa yang terjadi saat ini sebenarnya adalah buah yang harus dipetik dari sistem pemerintahan Soeharto dulu,” kata Raden Mas Suloyo, buka suara.

“Saya kira tidak mutlak seperti itu Denmas. Mungkin benar ini bagian dari buah yang dihasilkan sistem pemerintahan di era Orde Baru, tapi tidak semuanya. Dalam bidang politik, kebebsan berserikat dan berkumpul dan HAM mungkin pada era Soeharto sangat buruk, namun di sisi lain ada kok yang juga baik, seperti stabilitas keamanan, ketentraman, harga-harga murah dan sebagainya,” timpal Mas Wartonegoro.

“Lha iya, betul. Tapi itu semuanya semu. Lihat saja, begitu Pak Harto tumbang segalanya menjadi berubah tidak karu-karuan,” kata Denmas Suloyo.

“Sudahlah, tidak usah mencari kambing hitam. Semuanya ada salahnya, semua ada benarnya. Yang penting, bagaimana sekarang kita yang hanya seperti sekrup kecil ini ikut berperan memperbaiki kondisi bangsa yang jelas-jelas belum seperti kita harapkan, tak kunjung bangkit…” sela Mas Guru Dwijonegoro.

Bagi saya, diskusi tingkat kampung seperti ini sungguh menyenangkan. Karena para umumnya, para peserta menyampaikan sesuatu hal dari lubuk hati bukan karena kepentingan. Sebab kami memang tidak mempunyai pretensi atas suatu kepentingan tertentu. Sebagai rakyat jelata, kami hanya ngudarasa, menyampaikan unek-unek… setelah itu, ya selesai.

Maka, saya juga mahfum jika mayoritas kawan-kawan saya mengatakan bahwa bangsa kita kini masih dalam situasi yang sangat paradoksal, kelihatannya merdeka tetapi tetap terkungkung. Katanya sejahtera, tapi masih banyak yang untuk mencari sesuap nasi sehari-hari saja setengah mati sulitnya.

Tingkat kesejahteraan kian memburuk, tingkat pengangguran masih tinggi, perekonomian secara makro masih terpuruk ditambah berbagai kekerasan, kerusuhan, bentrokan dan sejenisnya. Di televisi, siaran berita yang muncul ibarat tiada hari tanpa berita huru-hara, kekerasan, kebrutalan…

Mengapa negeri tercinta kita bisa salah urus seperti ini. Bisa jadi apa yang ditulis Edy Prasetyono, Ketua Departemen Hubungan Internasional CSIS, Jakarta, di Harian Kompas beberapa waktu silam benar adanya. Inti pokoknya, apa yang terjadi dalam perkembangan bangunan negara-bangsa Indonesia sekarang ini sejatinya sudah dalam kategori mebahayakan.

Masyarakat, katanya, gampang bereaksi atas RUU, isu, atau hal-hal yang lain. Beberapa kelompok masyarakat saling berhadapan. Semua menunjuk pada gejala yang sama, “negara tidak hadir”.  Padahal, menurut Edy Prasetyono salah satu alasan dibentuknya negara adalah keamanan. Ini merupakan barang publik (public goods) yang harus diberikan negara kepada masyarakat.

Negara dapat menggunakan alat kekerasan secara sah melalui proses demokratis untuk memberi keamanan kepada masyarakat. Tugas dan kewenangan negara ini diberikan oleh rakyat melalui proses politik. Karena itu, sikap diam negara dan alat penegak hukum dalam menyikapi benturan antarkelompok masyarakat dengan fungsi dan atribut yang seharusnya hanya dimiliki negara akan mengancam eksistensi negara itu sendiri.

Orang akan mempertanyakan di mana negara saat ini. Mengapa negara seolah membiarkan kekerasan yang dilakukan entitas non-state terhadap kelompok dan individu warga negara lain?

Hal kedua, ada persoalan lebih besar terkait dengan perubahan watak bangsa kita, menyangkut pembangunan karakter (character building) bangsa yang telah berhenti. Negara (baca: pemerintah) telah salah melangkah dengan mengedepankan terbentuknya generasi cerdas dan pintar, tanpa menghiraukan terbentuknya generasi yang berkarakter, berwatak.

Ya… karakter bangsa, watak bangsa kita yang sebelumnya dikenal penuh unggah-ungguh, andhap asor, ramah tamah, tidak sombong dan gemar begotong royong bisa jadi telah berubah kalau tidak boleh disebut merosot. Lantas kapan akan bangkit? Kita tunggu saja… yang jelas seluruh komponen bangsa harus saiyeg saekapraya, cancut taliwanda…, bersatu padu, satu kata satu perbuatan untuk bersama-sama bertindak demi kejayaan bangsa…

Mulyanto Utomo

Wartawan SOLOPOS

lowongan pekerjaan
Juara Karakter Indonesia, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…