Sabtu, 22 Mei 2010 14:04 WIB News Share :

Dampak krisis Eropa tak akan separah krisis 2008

Jakarta–Krisis yang masih mengkhawatirkan di Eropa, khususnya wilayah Selatan Eropa, tidak akan membawa penurunan yang tajam terhadap ekonomi Indonesia di tahun 2010 ini. Pasalnya, negara-negara seperi Yunani, Spanyol, Portugal, dan Irlandia, bukan pelaku utama penggerak ekonomi Eropa.

Demikian disampaikan Pengamat Ekonomi dari Standard Charted Bank, Fauzi Ichsan dalam perbincangan dalam IDX Investor Club di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (22/5).

“Krisis Eropa tidak akan separah krisis global tahun 2008. Prospek pasar saham menjadi menarik karena valuasinya menjadi murah, walaupun investor masih menunggu,” ujar Ichsan.

Ia menambahkan, negara-negara Eropa juga sedang berkonsolidasi untuk bekerjasama guna menyelamatkan ekonomi mereka. Khususnya pemulihan di sumber krisis, khususnya negara di Eropa Selatan.

Meskipun ada kekhawatiran dari pelaku pasar dunia pada pekan ini, krisis akan terus berlanjut. Bahkan investor memutuskan menarik dananya dari bursa-bursa di Asia termasuk Indonesia.

Kabar bahwa negara Eropa lain yang akan mengikuti langkah Jerman,  melarang perdagangan naked short selling atas surat utang 16 negara, diperkirakan juga memicu aksi jual di Eropa yang kemudian diikuti di bursa Wallstreet.

“Memang di Eropa yang paling penting adalah Jerman, Perancis dan negara-negara Skandinavia. Misalkan, pagi-pagi Jerman mau out dari pemulihan euro, bagaimana. Bisa saja Bank Of Eropa menyelamatkan, dengan mencetak uang baru. Namun akibatnya nilai mata uang pasti akan menurun. Bahkan akan terus berlanjut, dan diprediksi euro menjadi 1-1,5 euro per dollar AS,” papar Ichsan.

Pada perdagangan akhir pekan ini, bursa Eropa sudah terkoreksi meskipun tidak terlalu dalam. Laju aksi jual di Eropa telah mengendur, pun demikian di kawasan Asia. Bahkan bursa Shanghai telah masuk ke teritori positif.

Pada perdagangan pekan depan, indeks-indeks bursa global diperkirakan mulai rebound lantaran koreksi tajam selama pekan ini telah membuat harga-harga saham terlalu murah. Investor diprediksi memang tengah menunggu titik terendah dari sentimen negatif Eropa untuk kemudian melakukan aksi beli massif.

“Dengan rentannya pemulihan ekonomi AS dan eropa, suku bunga global diperkirakan akan tetap rendah di tahun ini. Namun selama adanya ketidakpastian di saham, investor sementara memarkir dana di pasar uang, walaupun bunganya rendah,” imbuhnya.

“Pemulihan ekonomi global, laba perusahaan dan perbankan diperkirakan naik, usai krisis Euro berakhir. Juga harga komoditas global akan kembali naik, meski tidak setinggi 2007,2008. Saya juga perkiraan, kepanikan krisis Yunani akan mulai mereda pada tiga minggu ke depan. Saya juga sudah mulai collect saham-saham,” pungkas Ichsan.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…