Jumat, 21 Mei 2010 16:31 WIB Sukoharjo Share :

Diwarnai pembersihan atribut, debat KPU dingin

Sukoharjo (Espos)–Debat calon bupati/wakil bupati yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) bekerjasama dengan Universitas Veteran Bangun Nusantara, Kamis (20/5) malam  dinilai banyak kalangan dingin lantaran dalam acara itu tidak ada unsur debat sama sekali.

Sementara itu berdasar pantauan, sebelum acara juga diwarnai banyak perdebatan antara tamu undangan serta para panitia termasuk mahasiswa. Perdebatan itu dilatarbelakangi adanya pembersihan atribut partai politik di dalam lingkungan kampus sehingga para tamu undangan yang membawa atau memakai seragam Parpol dilarang masuk.

Bahkan anggota dewan yang juga tim sukses Wardoyo Wijaya – Sutarto (War-To), Sukardi Budi Martono yang mengenakan seragam Parpol juga dilarang masuk. Karena yang bersangkutan memaksa, akhirnya para panitia memberbolehkannya mengikuti acara.

Tak hanya itu, wartawan yang datang tanpa surat undangan juga dilarang masuk. Saat wartawan memaksa masuk lantaran acara tersebut bersifat terbuka, bukan panitia lagi yang melarang melainkan anggota kepolisian yang menghadang.

Meski sempat terjadi adu mulut, namun panitia, anggota kepolisian beserta anggota KPU yang berada di pintu masuk tetap tidak memperbolehkan wartawan masuk. Setelah wartawan beranjak pulang, barulah sejumlah panitia dari unsur pengajar kampus menghampiri dan meminta wartawan masuk kembali untuk kepentingan peliputan.

Salah seorang tamu undangan, Sukardi Budi Martono mengatakan menyayangkan banyaknya insiden pada acara debat. “Saya harus ekstra sabar. Pertama waktu mobil dilarang masuk ke lingkungan kampus, saya masih bisa menerima sehingga saya harus jalan kaki untuk bisa masuk ke kampus. Kedua waktu saya tidak boleh masuk ke acara karena memakai seragam partai, itu menurut saya sudah keterlaluan,” ujarnya di hari yang sama.

Budi sapaan akrabnya menambahkan, waktu dirinya bertanya alasan panitia melarangnya masuk dijawab panitia lantaran adanya larangan dari KPU. “Waktu saya tanya dasarnya apa saya tidak boleh masuk, katanya ada surat KPU yang melarang atribut Parpol masuk kampus. Tapi waktu saya desak suratnya nomor berapa, tidak ada panitia yang bisa menunjukkan,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Lembaga Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat (LPSEM), Didik Rudiyanto menilai acara debat KPU kacau. “Banyak para tamu undangan yang tidak diperlakukan dengan semestinya tadi malam. Terus terang kami kecewa karena panitia sepertinya kurang koordinasi,” ujarnya ketika dijumpai wartawan, Jumat (21/5).

Mengenai acara debat sendiri, Didik menilai, merupakan bentuk pemborosan APBD. “Saya bilang acara itu pemborosan APBD. Bagaimana tidak, judulnya debat tapi isinya persis seperti rapar paripurna pemaparan visi misi dalam rapat paripurna di dewan,” tegasnya.

aps

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…