Kamis, 20 Mei 2010 17:27 WIB Wonogiri Share :

Pencalonan Begug dinilai langkah mundur demokrasi

Wonogiri (Espos)–Pencalonan Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi sebagai wakil bupati (Wabup) pada Pemilu kepala daerah (Pilkada) 2010 dinilai merupakan langkah mundur dalam demokrasi di Kota Gaplek. Pencalonan itu itu dianggap tidak memberikan pembelajaran tentang politik yang beretika.

Penilaian tersebut diungkapkan salah satu anggota Komisi A DPRD Provinsi Jateng, Wahyudin Nur Ali, saat melakukan kunjungan kerja ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wonogiri, Kamis (20/5), bersama Ketua Komisi A DPRD Jateng, Fuad Hidayat dan sejumlah anggota komisi.
Dalam kesempatan tersebut, Ali mempertanyakan apa motif Begug, yang sudah dua periode menjabat sebagai bupati kemudian mencalonkan kembali tapi sebagai Wabup. Karena menurutnya, itu adalah sebuah langkah mundur dalam proses dan pembelajaran demokrasi.

“Setahu saya, sebagai bupati, Pak Begug memiliki langkah dan prestasi yang bagus. Tapi kenapa dia memilih mencalonkan diri lagi sebagai Wabup. Seharusnya dia mencalonkan diri ke tingkat yang lebih tinggi dan bersaing dengan kepala daerah lain, seperti Jokowi misalnya, sebagai gubernur. Dari sisi etika politik, bagaimana masyarakat akan menilai?” ungkapnya.

Menurut Wahyudin, fenomena ini adalah langkah mundur dalam demokrasi, karena tidak memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang etika berpolitik. Hal ini justru menanamkan ke dalam pikiran masyarakat bahwa Pemilu hanya sebuah proses prosedural, bahwa Pemilu hanya untuk meraih sebuah jabatan. Padahal seharusnya, sudah saatnya masyarakat diajarkan tentang substansi Pemilu, bukan melulu masalah prosedur.

Dalam kunjungan kemarin, rombongan Komisi A disambut oleh ketua dan anggota KPU Wonogiri. Anggota Komisi A DPRD Jateng, Fuad Hidayat, dalam kesempatan itu mengungkapkan, maksud dan tujuan kunjungan itu adalah untuk melihat sejauh mana kesiapan KPU menghadapi Pilkada, termasuk kesiapan anggaran dan sebagainya. Selain itu, juga untuk mengetahui sudah sejauh mana tahapan Pemilu berjalan.

Para anggota Dewan itu juga meminta agar KPU meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya tentang mekanisme pemilihan, yang ternyata menggunakan mekanisme lama dengan pencoblosan, setelah pada Pemilu legislatif dan Pemilu presiden lalu memakai sistem contreng.

Ketua KPU Wonogiri, Joko Purnomo memberikan penjelasan, bahwa sampai saat ini, tahapan Pilkada sudah sampai pada penyusunan daftar pemilih sementara (DPS). Hasil rekapitulasi sementara jumlah pemilih di Wonogiri  sebanyak 915.711 orang, dengan jumlah pemilih boro sebanyak 153.587 orang. Joko juga mengatakan, pihaknya dengan melibatkan tokoh masyarakat untuk sosialisasi tentang mekanisme pemilihan.

Mengenai pencalonan Begug, Joko mengaku sudah konfirmasi langsung secara personal dan dari pengakuan Begug sendiri, dia memang serius. Meskipun, apakah ia bisa maju ke Pilkada atau tidak, itu sangat tergantung pada rekomendasi partai. “Soal etis atau tidak, masyarakat sudah bisa membaca sendiri,” ujarnya.

shs

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…