Kamis, 20 Mei 2010 23:23 WIB Issue Share :

Para seniman merasa kehilangan akan kepergian Gesang

Isak tangis kerabat menyelimuti kepergian maestro keroncong, Gesang Martohartono, 92, Kamis (20/5), pukul 18.07 WIB. Di ruang ICU nomor 5, RS PKU Muhammadiyah Solo itu, pencipta Bengawan Solo mengembuskan napas terakhir. Kerabat besar Gesang terus berdatangan untuk melihat jenazahnya. Begitu pula para penggemar Gesang yang terlihat ikut menunggu di luar ruangan ICU.

Simpati pada pria yang dikenal santun dan berpenampilan sederhana ini terus mengalir dari berbagai pihak. Di antaranya para artis dan seniman yang pernah memiliki banyak kenangan bersama almarhum. Keponakan Gesang yang juga Ketua Umum Yayasan Gesang, Didit Bagus Pratondo mengaku kalau beberapa seniman, seperti Titik Puspa dan Bens Leo langsung mengucapkan ungkapan turut duka cita melalui pesawat telepon.
Rasa kehilangan itu juga dirasakan penyanyi keroncong dan juga sahabat Gesang, Waldjinah. Semasa hidupnya, Gesang merupakan sosok yang sangat dia kagumi. Hubungan Waldjinah dengan Gesang sudah seperti ayah dengan anak.

“Gesang itu ya bapak saya, mbah saya, kakak saya, teman saya. Saya sangat merasa kehilangan atas kepergian maestro kebanggaan bangsa itu,” tutur Waldjinah saat dihubungi Espos, Kamis (20/5) malam.

Banyak kenangan bersama Gesang. Waldjinah pernah pentas bareng di Jepang sekitar 1971-an. Lagu Bengawan Solo yang banyak dikagumi di Negeri Sakura tersebut membuat pria kelahiran Solo, 1 Oktober 1917 ini menjadi primadona. Para penyanyi keroncong disambut dengan meriah warga di sana.

“Bahkan lagu Bengawan Solo dipakai untuk senam pagi di sebuah hotel di Jepang,” bebernya.

Sementara itu, Djudjuk Srimulat menyatakan kalau perasaan rasa kehilangan yang ia alami sama seperti penggemar-penggemar Gesang lain di berbagai penjuru dunia. Ia merasa sangat kagum dengan kepribadian Gesang yang rendah hati. Ketika Aceh dilanda bencana tsunami, Djudjuk bersama Gesang serta seniman-seniman Solo lainnya ikut mengadakan penggalangan dana.

“Ketika itu, Gesang kami minta menuliskan syair Bengawan Solo dengan tinta emas pada secarik kertas. Dan tulisan itu laku terjual Rp 60 juta. Dia juga menyumbangkan pecinya untuk dilelang dan laku terjual Rp 10 juta,” tukas Djudjuk.

Sementara bagi seniman campur cari M Sodiqin atau yang dikenal dengan Cak Diqin, menilai bahwa Gesang telah mampu memberikan nyawa tentang khasanah budaya Indonesia, khususnya dunia keroncong. Sosoknya mampu menjadi inspirasi untuk para seniman-seniman tradisi. Gesang juga seorang komponis yang kharismatik dan santun. Semangatnya dianggap mampu memberikan apresiasi hubungan kemanusiaan, cinta kasih dan sosial kemasyarakatan.

Semangatnya merupakan cerminan kehangatan sosial, kemanusiaan, dan cinta kasih. Cak Diqin yang pernah satu panggung dengan sang maestro keroncong merasa kehilangan seorang tokoh yang juga aset negara itu. “Selamat tinggal Gesang, Bengawan Solo tak pernah berlalu. Semoga Tuhan menempatkan engkau di sisi kanan-Nya,” ujarnya.

hkt

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…