Kamis, 20 Mei 2010 17:00 WIB Solo Share :

Besok, Inspektorat panggil oknum terduga Pungli

Solo (Espos)–Inspektorat Daerah akan  memanggil sejumlah oknum terduga penarik pungutan liar (Pungli) di jajaran Dinas Kependudukan dan catatan Sipil (Dispendukcapil) Jumat (21/5) besok.

Hal itu terkait surat laporan Pungli pembuatan akta kelahiran sebesar Rp 1 juta atas nama warga Jebres, Yatno.  Kepala Inspektorat Daerah, Bambang Santosa W, saat ditemui wartawan, di Balaikota, Kamis (20/5), mengatakan sejauh ini pihaknya belum dapat memberi kepastian kebenaran dari laporan dugaan Pungli tersebut.

Seperti disebutkan dalam surat, Yatno mengaku hendak mengurus pembuatan akta kelahiran untuk anaknya pada 5 Mei 2010. Masih dalam surat itu, Yatno menyebut seluruh kelengkapan pembuatan akta kelahiran telah dia lengkapi.

Namun begitu bertemu pegawai Dispendukcapil, dia diminta membayar uang senilai Rp 1 juta. Karena tak memiliki uang sebanyak itu, Yatno akhirnya urung mengurus pembuatan akta kelahiran.

“Besok (Jumat-red) baru kita panggil ke Inspektorat. Semua harus dikroscek dulu. Beberapa pegawai yang terlibat soal pengurusan akta kelahiran ini, mulai dari kecamatan sampai catatan sipil. Berapa orang yang terlibat, itu bisa berubah. Masih memungkinkan ada pengembangan,” papar Bambang.

Di lain pihak Kepala Dispendukcapil Solo, Mamiek Miftahulhadi justru menduga surat atas nama Yatno tersebut adalah surat kaleng alias fitnah belaka. Menurut Mamiek, pihaknya telah mencoba menelusur nama Yatno dalam daftar pemohon akta kelahiran, namun tidak ditemukan.

Seharusnya, Mamiek menegaskan jika pelapor dapat memberikan nama terang berikut alamat, keluhan yang disampaikannya dapat segera ditindaklanjuti.

Sementara itu, Ketua DPRD Solo, YF Sukasno, Kamis mendatangi langsung kantor Dispendukcapil untuk mengklarifikasi langsung dugaan Pungli  tersebut. Sukasno menegaskan warga seharusnya berani memaparkan dugaan Pungli berikut memberi nama dan alamat terang. “Kalau korban takut, silakan datang ke Dewan. Tidak perlu takut jika memang kejadian itu benar,” ujar Sukasno.

tsa

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…