Rabu, 19 Mei 2010 12:40 WIB News Share :

Indonesia Timur dan barat rawan gempa

Jakarta--Pergerakan gempa di Indonesia, secara statistik sebenarnya membentuk sebuah pola. Yaitu, gempa di alur wilayah rawan gempa Indonesia Timur dan wilayah rawan gempa Indonesia Barat.

Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief mengatakan, dari hasil riset statistical pemerhati gempa Kepresidenan, terlihat bahwa pola gempa itu berlangsung sejak ratusan tahun.

Ada dua kawasan rawan gempa di Indonesia. Yaitu, kawasan rawan gempa di Indonesia Timur dan kawasan rawan gempa di Indonesia Barat. Dari statistik menunjukkan, jika terjadi gempa di Indonesia Timur, terutama dengan magnitude di atas 5 Skala Richter, maka dalam waktu tak lama akan terjadi gempa di Indonesia Barat.

“Ini bisa menjadi salah satu parameter untuk early warning system kita,” kata Andi Arief kepada INILAH.COM, Rabu (19/5).

Diungkapkan, wilayah potensi gempa di Indonesia Barat meliputi Aceh, Simeulue, Mentawai, Sumatra Utara, Medan, Padang, Pariaman, Sibolga, Nias, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan hingga Selat Sunda.

Sementara, wilayah potensi gempa di Indonesia Timur mulai dari NTB, NTT, Timor, Sumba, Sumbawa, Sulawesi (Utara, Gorontalo, Melongeane, Sangihe, Talaut), Maluku (Utara, Halmahera, Laut Banda, Saumlaki), Irian Barat.

Analisa sementara, pola ini terjadi karena kedua wilayah tersebut berada dalam lempeng samudra yang berdekatan, yang saling mengait.

Gempa Indonesia Timur juga dipengaruhi gempa tetangga Indonesia, mulai dari utara Alaska, Rusia, Jepang, Taiwan, Philipina, Mariana serta dari timur, yaitu Selandia Baru, Fiji, Tonga, Vanuatu, Santa Cruz, Papua New Guinea. Karenanya, tidak selalu gempa Indonesia Timur setelah gempa Indonesia Barat.

Gempa Indonesia Barat (Sumatra) dipengaruhi gempa tetangga dari utara, yaitu Andaman, Nicobar, dari Barat, yaitu Carlsberg ridge dan selatan, yaitu samudra Hindia sehingga tidak selalu gempa gempa Indonesia Barat terjadi setelah gempa Indonesia Timur.

Andi Arief menunjukkan hasil pantauan gempa Tim Stafsus Presiden Bindang Bantuan Sosial dan Bencana: Pada tanggal 15 Mei 2010, pukul 23.55, terjadi gempa di kepulauan Fiji dengan kekuatan 5,9 Skala Richter. Fiji adalah kepulauan yang berada di timur Papua.

Lalu, tanggal 16 Mei 2010, pukul 07.33 arah gempa bergerak ke Manado, Sulawesi Utara, dengan kekuatan 6,0 Skala Richter. Pada hari yang sama, pukul 11.08, terjadi gempa di Tenggara Palu, Sulawesi Tenggara dengan kekuatan 5,1 Skala Richter. Di hari yang sama juga, pada pukul 16.03, terjadi gempa di Barat Daya Jayapura, Papua. Kekuatan gempa mencapai 5,1 Skala Richter.

Pada tanggal 17 Mei 2010, pukul 05.04, gempa mengarah ke kawasan Barat Laut Labuhan Bajo-NTT, dengan kekuatan 5,1 Skala Richter.

Pada tanggal yang sama, gempa sudah bergerak ke arah barat di luar kawasan Indonesia. Yaitu, di kawasan Andaman Island. Gempa yang pukul 16.04 itu berkekuatan 5,6 Skala Richter. Tak lama setelah itu, pukul 20.40, terjadi gempa di sebelah barat pantai Sumatera Barat dengan kekuatan 4,8 Skala Richter.

“Dengan memperhatikan gempa-gempa di sekitar tersebut maka, kita dapat mewaspadai adanya potensi gempa setelah gempa-gempa sekitar, sebelum gempa itu terjadi di sekitar kita,” kata Stafsus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief di Jakarta

isw

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…