Selasa, 18 Mei 2010 17:02 WIB Wonogiri Share :

Korban banjir minta normalisasi Bengawan Solo

Wonogiri (Espos)–Warga korban banjir di Lingkungan Sukorejo, Kelurahan Giritirto berharap segera ada solusi mengantisipasi luapan air Sungai Bengawan Solo setiap kali pintu spillway Waduk Gajah Mungkur (WGM) dibuka. Mereka mendesak normalisasi sungai.

Pantauan Espos di lokasi, Selasa (18/5), air yang menggenangi kawasan itu sejak Minggu (16/5) dini hari lalu sudah surut. Tidak terlihat lagi genangan air, bahkan tanahnya pun sudah mulai mengering.

Namun demikian, kekhawatiran warga akan adanya banjir susulan belum surut. Setiap kali mendengar kabar pintu spillway WGM dibuka dan air sungai terlihat mulai naik, warga langsung bersiap-siap, menaikkan barang-barang berharga ke atas anjang-anjang (rak di bawah atap serupa loteng).

“Wah, di sini setiap hari bawaannya waswas terus. Takut pengalaman tahun 2007 lalu terulang lagi. Saat itu, air datang dengan sangat cepat, tidak ada waktu untuk menyelamatkan barang-barang. Kalau banjir terakhir ini tidak terlalu mengerikan,” ujar salah satu warga
Lingkungan Sukorejo RT 2/RW X Kelurahan Giritirto, Wonogiri, Dinar, saat ditemui, kemarin.
Warga lainnya, Rori mengatakan, daerah yang ditempatinya sebenarnya bukan wilayah bantaran sungai dan ia mengklaim tanah yang ditempatinya adalah tanah hak milik bersertifikat. Selain itu, sebelum 2007 lalu, selama puluhan tahun ia tinggal di wilayah itu tidak pernah kebanjiran.

Dia menduga hal itu karena telah terjadinya pendangkalan di Sungai Bengawan Solo sehingga sudah tidak lagi mampu menampung limpasan air dari pintu spillway WGM. Karena itulah, lanjutnya, untuk mengantisipasi banjir di masa mendatang, langkah yang harus diambil pemerintah adalah dengan melakukan pengerukan dan normalisasi Bengawan Solo.

“Kalau harus relokasi mungkin saja jika pemerintah menyediakan lahannya. Tapi saya kok tidak yakin pemerintah mampu. Tanah yang kami tempati ini resmi bersertifikat hak milik,” kata Rori.

Terpisah, Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas), Gatot Gunawan mengungkapkan, pihaknya belum bisa menentukan sikap terkait penanganan warga korban banjir di wilayah Giritirto. Pihaknya perlu melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pendataan guna mencari informasi mengenai status tanah yang ditempati warga.

Sementara Kepala Dinas Sosial Wonogiri, Suharno, saat ditemui mengaku belum menerima pemberitahuan soal bencana banjir tersebut, sehingga belum menyalurkan bantuan. “Kalau banjir yang sebelumnya (awal April-red) kami sudah mengirim bantuan logistik seperti beras, sarden, mi instan, selimut dan lain-lain. Tapi yang terakhir ini kami belum terima laporan. Lagipula kami juga sedang kehabisan stok logistik,” jelas Suharno.

shs

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…