Selasa, 18 Mei 2010 12:42 WIB News Share :

Gerakan anti Facebook landa Australia

Jakarta–Gerakan anti facebook mulai melanda Australia sebagai buntut kematian dua remaja yang diduga tewas terkait laman jejaring sosial.

Gerakan ‘Keluar dari Facebook’, ‘QuitFacebookDay” diserukan di dunia maya. Para pengguna dianjurkan untuk menutup akun Facebook mereka pada 31 Mei 2010.

Kampanye fokus pada persoalan bahwa pengguna harus mengubah 50 setting berbeda untuk menghentikan Facebook membagi informasi pribadi mereka dengan pihak ketiga.

Meski baru mengumpulkan 3.700 dukungan, ‘QuiteFacebookDay’ diharapkan mendunia untuk melawan laman jejaring sosial yang menyebarkan data pribadi penggunanya.

“Facebook memberi kita pilihan untuk mengatur informasi yang ingin kita tampilkan, tapi mereka tak menyediakan pilihan yang adil. Ketika kita ingin menggunakannya, Facebook membuat pengaturan itu sangat sulit dimengerti rata-rata pengguna.”

“Menurut kami, Facebook tidak sungguh-sungguh menghormati Anda dan data-data Anda,” demikian dimuat laman QuitFacebookDay.com.

Polisi Australia juga telah telah mengimbau remaja dan anak-anak untuk menghapus foto di profil akun jejaring sosial.

Remaja asal Sydney, Nona Belomesoff diduga dibunuh oleh orang asiung yang dikenalnya lewat Facebook.

Penyidik, Inspektur Peter Crawford dari Unit Kerja Argos — yang memburu para predator online mengatakan, foto diri di laman jejaring sosial tidak ditampilkan untuk umum.

“Saya pikir anak-anak seharusnya tak memasang foto di profilnya,” kata dia kepada Courier-Mail, seperti dimuat laman News.com.au, Selasa 18 Mei 2010.

Kemarahan melanda ketika salah satu fitur-fitur baru yang memungkinkan situs tertentu untuk melihat dan menyimpan profil Facebook pengunjung.

Wakil Ketua Australian Privacy Foundation (APF), David Vaile mengaku khawatir. “Para partner komersial tidak akan hanya memiliki informasi pribadi pengguna Facebook tetapi juga dapat melihat siapa yang mereka kenal dan pada siapa saja siapa pengguna berkomunikasi,” kata Vaile.

“Ini bukan lelucon. Ini adalah publikasi informasi Anda dan lima miliar orang di dunia.  Ini mungkin berlaku selamanya.”

Mr Vaile mengatakan APF akan melobi pemerintah untuk turun tangan mengatasi masalah privasi di Facebook.

Hak-hak privasi pengguna Facebook masih terus diperjuangkan oleh para pengguna jejaring sosial terbesar itu. Lebih dari 15 lembaga pengawasan konsumen telah mengirim keberatan resmi kepada US Federal Trade Commission atau Komisi Perdagangan Amerika Serikat. Sementara Facebook masih terus berkilah dan tak mempedulikan keinginan para pengguna layanannya.

isw/Vivanews

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…