Senin, 17 Mei 2010 16:47 WIB Solo Share :

Tanggul anak Sungai Bengawan Solo longsor

Solo (Espos)–Setelah tanggul di kawasan RW XXIII Semanggi, Pasar Kliwon longsor, kini kejadian serupa menimpa tanggul anak sungai Bengawan Solo di RW VI kelurahan setempat. Tanggul yang berdiri di sisi timur rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) tersebut longsor sepanjang 30-an meter.

Selain karena faktor hujan yang mengguyur terus menerus beberapa hari terakhir ini, longsornya tanggul juga disebabkan rusaknya lahan pasca relokasi. Lokasi tanggul berada persis di RT 05/ RW VI Kelurahan Semanggi. Longsor mengakibatkan lebar tanggul terus menyusut hingga menyisakan tiga meteran.

Menurut keterangan warga setempat, longsornya tanggul tersebut juga disebabkan adanya instalasi pembuangan air limbah (IPAL) yang ditanam di dalam tanggul. Kondisi yang kritis tersebut juga diperparah dengan adanya truk-truk proyek pengangkut bahan material yang melintas di atasnya.

“Faktornya sangat komplek. Selain dilewati truk-truk, juga adanya IPAL yang ditanam di dalam tanggul,” kata warga setempat, Tukiman di lokasi, Senin (17/5).

Informasi yang dihimpun Espos, truk-truk proyek tersebut dulu melintas untuk mengangkut bahan material pembangunan tanggul di RW XXIII. Meski kini tanggul di RW XXIII telah rampung, namun masih menyisakan kerusakan akses jalan di atas tanggul tersebut.

Sementara itu, menurut Ketua RT setempat, Supardi, ketahanan tanggul kian ringkih setelah tanaman-tanaman penahana erosi di pinggir di tanggul digunduli warga untuk hunian liar.Pasca relokasi, lanjutnya, lahan-lahan di tanggul kian terbengkalai lantaran ditinggalkan warga bantaran begitu saja tanpa recovery.

Kejadian longsornya tanggul tersebut, kata Supardi, sudah menjadi keresahan warga setempat. Dalam rapat bulanan, kondisi rusaknya tanggul tersebut juga dibahas. “Kami khawatir kalau tanggul sampai jebol. Saat ini saja, hujan masih deras, dan dipastikan tanggul akan terus tergerus,” paparnya.

asa

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Memaknai Imlek, Memulihkan Bumi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (15/2/2018). Esai ini karya Hendra Kurniawan, dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menekuni kajian sejarah Tionghoa. Alamat e-mail penulis adalah hendrayang7@tgmail.com. Solopos.com, SOLO–Syahdan ketika Dinasti Qing runtuh dan mengakhiri sejarah…