Minggu, 16 Mei 2010 14:12 WIB Solo Share :

Warga Solo was-was banjir lagi

Solo (Espos)--Warga korban banjir akibat luapan air Sungai Bengawan Solo di sejumlah kelurahan di Solo tetap siaga. Mereka was-was banjir datang lagi menyusul kondisi cuaca yang mendung sepanjang hari, pada Minggu (16/5).

Banjir yang melanda RT 3/RW VII KelurahN Sewu, dikatakan warga setempat mulai surut Minggu dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB. Namun, wilayah yang berada di kawasan non-bantaran atau di dalam tanggul tersebut baru benar-benar kering sekitar pukul 06.00 WIB.

Pantauan Espos, di lokasi sejumlah warga terlihat membersihkan rumah masing-masing dan mengeringkan barang-barang yang saat banjit tak sempat terselamatkan. Sementara, sebagian barang tetap berada di lantai dua kediaman mereka atau di atas ranggon alias anjang-anjang yang sengaja dibuat untuk mengamankan barang.

“Ada 26 rumah di RT kami yang terendam banjir. Semuanya sudah kembali ke rumah masing-masing. Tapi kami tetap siap-siap. Barang-barang masih diamankan di anjang-anjang. Semuanya, bantal, kasur, pakaian, TV, pokoknya semuanya yang muat. Kami was-was banjir lagi melihat cuaca yang mendung terus begini,” kisah warga RT 3/RW VII Kelurahan Sewu, Jebres, Daeng, saat ditemui Espos, di lokasi setempat, Minggu.

Daeng mengakui, warga seakan sudah terbiasa mengalami banjir, lantaran rumah mereka yang berada di dataran yang paling rendah di banding wilayah sekitar. Namun, banjir setinggi lebih dari 1,5 meter yang menggenang selama beberapa jam tetap membuat masyarakat was-was. Daeng berharap, pemerintah segera memberi solusi atas kondisi yang menimpa warga. Selama ini, dia menjelaskan, air dari Sungai Bengawan Solo leluasa masuk ke kediaman warga lantaran pintu air yang menghubungkan saluran air permukiman dengan sungai tidak tertutup rapat. Belum lagi, sambungnya, ditambah limpahan air dari wilayah sekitar.

“Warga sebenarnya berharap segera disediakan pompa air, seperti di pintu air lain sehingga tidak harus banjir begini,” imbuh dia.

Sementara itu, menanggapi banjir yang melanda Soloraya, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Graita Sutadi menegaskan kondisi itu tidak bisa dikatakan banjir. Menurut Graita, sepanjang air hanya menggenangi kawasan bantaran sungai tidak bisa disebut banjir, sebab bantaran sungai memang tidak diperuntukkan untuk hunian. Justru, kejadian Sabtu lalu, harus menjadi pertimbangan warga yang hingga kini masih bertahan di bantaran sungai untuk segera pindah.

“Kalau di bantaran sungai jangan dikatakan itu banjir, itu bukan banjir, karena bantaran memang tempat singgah air. Salah sendiri mengapa ditinggali,” tandas dia, seusai meninjau kondisi Pintu Air Demangan.

Lain halnya, lanjut Graita, jika genangan terjadi di luar bantaran. Untuk banjir di kawasan non bantaran, masyarakat berhak mendapat solusi. Mengenai permintaan pompa warga RT 3/RW VII Semu, dia menyarankan menyampaikan usulan tersebut walikota Solo. “Ini kan wilayahnya Pak Walikota, sampaikan ke sana,” saran dia.

Di lain pihak, Graita mengakui perubahan cuaca membawa persoalan sendiri untuk mengatasi banjir. Namun, dia memastikan saat ini ketinggian air di Waduk Gajah Mungkur (WGM) dalam kondisi normal, atau disebut normal high water level (NHWL).

tsa

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…