Minggu, 16 Mei 2010 13:42 WIB Negara Share :

Hawa optimisme Bafana Bafana

Johannesberg--Ada hawa optimisme sangat besar di Afrika Selatan (Afsel) saat ini untuk bisa mengguratkan sebuah catatan sejarah di kancah persepakbolaan dunia. Sebuah tugas besar menanti di depan mata.

Deretan kekecewaan telah menyambangi mereka dalam beberapa tahun terakhir, namun tim Bafana Bafana ini sebenarnya juga telah menunjukkan jati diri mereka. Meskipun dalam kondisi sedikit sulit, namun mengingat motivasi dan tujuan yang ada maka mereka bisa menjadi sebuah ancaman besar bagi tim-tim lain di Piala Dunia (PD) 2010. Dan saat ini tentu saja tak ada motivasi yang lebih besar bagi para pemain dari mewakili negara mereka pada Piala Dunia di kandang sendiri.

Penampilan gagah berani Afsel di ajang Piala Konfederasi, Juni 2009, ketika mereka kalah tipis dari Brazil di semifinal dan takluk dari Spanyol di perebutan tempat ketiga play-off, tentu saja harus menjadi peringatan mengerikan untuk semua orang yang masih meragukan kemampuan tim ini. Ketika potensi mulai menggeliat, tentu saja hal itu tak dapat diremehkan. Turnamen itu menjadi saksi berbagai mengesankan tuan rumah, dan akhirnya hanya ketidakmampuan mereka untuk mengkonversi berbagai peluang menjadi gol yang menyebabkan mereka habis di tengah jalan.


Prioritas utama

Sebagai tuan rumah, Afsel berhak lolos secara otomatis ke putaran final Piala Dunia 2010. Penyelenggaraan ini juga menjadikan Afrika Selatan sebagai negara pertama di Benua Hitam tersebut yang pernah menyelenggarakan pesta sepak bola paling bergengsi empat tahunan ini.

“Kami semua menyadari, adalah suatu kehormatan besar untuk bermain di Piala Dunia di negeri sendiri, tak banyak pemain yang memiliki kesempatan seperti itu. Kami juga menyadari tugas yang ada di depan.. Bagi kami, Piala Dunia adalah prioritas utama, itu tujuan terbesar kami. Tentu saja kami harus mewakili negara kami dengan penuh kebanggaan,” kata kapten Timnas Afsel, Aaron Mokoena di kutip goal.com.

Meski menempati unggulan pertama di Grup A bersama Meksiko, Uruguay dan Prancis, namun Afsel tak terlalu memasang target muluk-muluk pada PD 2010. Menembus putaran kedua adalah target realistis mereka.

Berbicara tentang kekuatan, skuat Afsel pantas bersyukur karena mereka dianugerahi sejumlah pemain yang punya ketrampilan dan kecepatan. Poin ini pula yang membuat para pemain Afsel punya kepercayaan diri cukup besar untuk menggiring bola ketika yang lainnya tidak melakukan. Begitu juga dengan modal penting penjaga gawang yang memiliki kualitas tinggi membuat tim ini patut diperhitungkan.

Hanya saja, Afsel bukan tanpa masalah. Persoalan utama yang dihadapi Bafana justru terletak dalam produktifitas golnya. Dua laga terakhir memperlihatkan mereka masih mandul dengan hasil imbang tanpa gol. Bahkan mereka juga masih terus mencari solusi untuk bisa mencetak lebih banyak gol lagi sejak tampil di Piala Konfederasi lalu.

Membicarakan Afsel tentu tak bisa lepas dari sosok yang berusaha keras untuk memimpin kejayaan mereka atau setidaknya dapat memberikan kebanggaan di hadapan publik dunia. Ya, dia adalah Carlos Alberto Parreira. Setelah sempat absen menangani Afsel dalam beberapa waktu, Parreira kembali ditunjuk Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan (SAFA) menukangi Timnas negeri tersebut. Parreira meninggalkan posnya karena alasan keluarga. Dia sudah tahu banyak bagaimana cara dan tipe permainan para bintang Bafana. Modal itu pula yang menjadi asalan SAFA mengganggap Parriera  sebagai sosok yang cocok untuk meningkatkan lagi performa tim Bafana.

Di kancah Piala Dunia, kiprah Afsel memang belum begitu moncer. Penampilan pertama mereka di Prancis 1998, enam tahun setelah mereka diterima kembali ke dalam keluarga besar sepak bola dunia. Meskipun kalah 0-3 dari Prancis pada laga pembuka, tampil impresif saat berhadapan dengan Denmark dan Arab Saudi, menggambarkan bagaimana kekuatan mereka. PD Korea/Jepang 2002, diharapkan menjadi kesempatan bagi Bafana Bafana untuk melangkah ke tingkat berikutnya, tetapi pada akhirnya mereka tersingkir juga di fase grup meski manang 1-0 dari Slovenia. Itu adalah kemenangan kali pertama Afsel di ajang Piala Dunia.

who

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…