Sabtu, 15 Mei 2010 10:48 WIB News Share :

Peluncuran PNPM/KUR di Jayapura nyaris ricuh

Jayapura–Penyerahan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kota Jayapura yang dihadiri Menkokesra, Agung Laksono, nyaris ricuh. Warga asli Papua protes karena merasa jatahnya lebih kecil dibanding warga non Papua.

Penyerangan PNPM Mandiri dan KUR itu dilaksanakan di Kelurahan Imbi Dok 7 Kota Jayapura, Sabtu (15/5). Pembagian yang tak merata ini, langsung direspon dengan teriakan dan protes dari masyarakat asli Papua yang berada ditempat tersebut.

“Ini sangat diskriminasi karena masyarakat Papua hanya mendapat kredit Rp 5 juta sementara warga non Papua, mendapat bantuan hingga Rp 300 juta,” tegas Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Namanu, Kampung Tobati, Pdt. John Baransano.

Hal yang sama dikemukakan Ketua Badan Otoritas Sentani, Frans Albert Yoku. Saat berdialog dengan Menkokesra, Frans Yoku langsung meluapkan kemarahannya karena melihat adanya kejanggalan dan diskriminasi terhadap orang asli Papua saat menyalurkan PNPM dan KUR.

Ia berharap agar hal ini tak terulang kembali dan meminta perhatian khusus dari Menkokesra agar di waktu-waktu kedepan, penyalurannya musti lebih berpihak kepada orang asli Papua.

Sementara itu, Wakil walikota Jayapura, Sujarwo, meminta maaf kepada masyarakat karena pembagian penyaluran PNPM dan KUR, tak merata dan tak memihak kepada orang asli Papua. Sujarwo berjanji akan segera berbicara dengan berbagai pihak maupun fasilitator agar dalam penyaluran di waktu-waktu mendatang, lebih memihak kepada masyarakat asli Papua.

Hal yang sama dikemukakan Menkokesra, Agung Laksono. Ia mengatakan seluruh aspirasi masyarakat akan ditampung karena tujuan PNPM untuk mensejahterakan masyarakat. Agung berharap ke depanĀ  tak ada lagi diskriminasi dalam pembagian PNPM/KUR di Papua.

dtc/ tiw

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…