Sabtu, 15 Mei 2010 15:00 WIB News Share :

Listrik Kota Palu padam total

Palu–Kota Palu bersama Kabupaten Parigi Moutong, Sigi, dan Donggala sebagai wilayah koneksitas kelistrikan PLN cabang Palu, Sulawesi Tengah,  mulai Sabtu ini (15/5) mengalami pemadaman listrik total. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mpanau dipastikan berhenti beroperasi akibat kehabisan batu bara.

Stok batu bara dari PLN Palu ternyata batal didatangkan. Hingga Jumat (14/5) kemarin PLN dan pemilik batu bara di Kalimantan belum sepakat harga pembelian.

“Paling lambat sore ini shut down, kami sudah betul-betul kehabisan stok batu bara. Mesin tidak bisa lagi beroperasi,” jelas Bagian Operasional PLTU Mpanau, Djati Nugroho, Sabtu.

Dengan shut down-nya PLTU Mpanau, maka PLN kehilangan daya sebesar 22 MW yang disuplai PLTU. Pemadaman semakin meluas tidak bisa dihindari. Pengiriman batu bara dari Kalimantan membutuhkan waktu sekitar tiga hari.

“Rencana keberangkatan dari Kalimantan saja belum ada, kami belum bisa memprediksi kapan bisa mengoperasikan mesin, jadi memakan waktu lama, sembari menunggu kepastian pengiriman batu bara,” urai Djati.

Informasi dari PLN Wilayah Suluttenggo, batu bara diperkirakan tiba pada Senin (17/5) mendatang. Pihaknya hendak menyuplai 20 ribu ton batu bara, namun secara lisan pihak PLTU melalui Bagian Operasional, Djati Nugroho, menolak suplai tersebut dan hanya mau menerima sebanyak 5 ribu ton. “Kami tidak mengerti alasan pihak PLTU atas penolakan tersebut,” jelas Manajer PT PLN Cabang Palu, I Nyoman Sujana.

PLTU juga belum memastikan pengoperasian Boiler Unit I yang tengah diverifikasi dari Depnaker. “Memang seharusnya Boiler itu mendapat sertifikat demi keamanan, namun jika berorientasi kepada pelanggan dan pelayanan, seharusnya itu bisa diatasi dengan ketepatan waktu kedatangan pihak Depnaker,” tegas Nyoman.

Akibat tak beroperasinya PLTU Mpanau, maka pemadaman akan terjadi dalam skala 3:9 atau tiga jam nyala sembilan jam padam.

Terkait hal ini, Wali Kota Palu Rusdy Mastura mengaku tak bisa berbuat apa-apa. Pihaknya tidak bisa memaksa PLTU agar tetap beroperasi, sementara mengalami kerugian besar. “Saya ini sudah malu membujuk-bujuk Pak Albert, Direktur PT PJPP pusat untuk tetap mengoperasikan PLTU. Bagaimana orang mau melanjutkan usahanya kalau selalu merugi,” ujarnya.

Dia melanjutkan, tanggung jawab listrik bukan ada pada pemerintah kota. “Tapi karena saya punya tanggung jawab moral terhadap kelistrikkan yang ada di Palu maka saya mati-matian untuk perjuangkan, bukan mau jadi pahlawan tetapi paling tidak antara PLN dan PT PJPP tidak ada yang saling dirugikan,” ujar Cudy, sapaan akrab Rusdy.

tempointeraktif/ tiw

lowongan pekerjaan
Bengkel Bubut, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…