Selasa, 11 Mei 2010 11:33 WIB Ekonomi Share :

BI minta pelaku pasar tak panik hadapi krisis Yunani

Jakarta–Bank Indonesia (BI) meminta semua pelaku pasar domestik agar tidak khawatir menghadapi gejolak krisis keuangan yang terjadi di Yunani.

Pasalnya, krisis Yunani kini telah ditangani dan diminimalisir dampaknya sehingga shock yang terjadi pekan lalu telah diredam. Selain itu Indonesia telah mempunyai pengalaman menghadapi krisis pada tahun 2008 lalu.

Deputi Gubernur BI, Budi Mulya mengatakan Bank Sentral selaku regulator akan terus menjaga situasi pasar supaya sesuai dengan rencana ekonomi secara makro.

“Jadi jangan berlebih dan khawatir apa yang terjadi di Yunani. Karena sesuai dengan lesson learn, kita harus pruden dan menyertai pikiran-pikiran kita baik pelaku maupun regulator karena memang kita belajar dari pengalaman 2008,” ujar Budi ketika ditemui di sela acara Swift Business Forum di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa (11/5).

Budi menegaskan, otoritas di negara Eropa dan belahan dunia lain memang saat ini tengah fokus kepada krisis di Yunani. “Semua sangat concern dengan apa yang terjadi di Yunani. Dan semuanya telah bersepakat untuk meminimalkan dampak ini,” ungkap Budi.

Apa yang terjadi pekan lalu, lanjut Budi, memang terjadi shock yang begitu besar dan memang pasar mempersepsikan berlebih atas apa yang terjadi di Yunani. “Tapi jika dilihat sampai dengan hari ini kan sudah banyak perkembangannya,” katanya.

Ia juga memaparkan, krisis yang terjadi di belahan Uni Eropa dunia ini sangat interconnected (saling berhubungan) dengan negara-negara emerging di Asia.

“Jadi sangat penting dilakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga global. Karena memang tidak ada masalah yang bisa selesai jika ditangani sendiri. Kemarin The Fed juga sudah buka swap line agar mengurangi over reaction,” tuturnya.

Lebih lanjut Budi mengatakan, Bank Sentral selalu menjaga nilai tukar rupiah yang ikut terpengaruh krisis yang terjadi Yunani. Sehingga nilai tukar tetap stabil dan sejalan dengan kondisi makro dengan menggunakan cadangan devisa yang dimiliki Indonesia.

“Cadangan Devisa kita kan lebih dari US$ 78 miliar, dan memang itu bagian dari menjaga rupiah itu sendiri. Kita berusaha meminimalkan volatilitas dengan langkah sterilisasi,” tuturnya.

Karena, sambung Budi, di dalam konteks saat ini untuk menghadapi capital inflow yang ada adalah dengan sterilisasi.

“Sterilisasi pada akhirnya menambah cadangan akumulasi cadangan devisa. Itu merupakan hal yang penting untuk self insure kalau terjadi capital outflow ke depan,” tandas Budi.

dtc/ tiw

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…