Jumat, 7 Mei 2010 20:23 WIB Wonogiri Share :

Anak tidak lulus, orangtua pecah kaca jendela sekolah

Wonogiri (Espos)–Pengumuman hasil ujian nasional (UN) di Wonogiri ternoda dengan adanya aksi pemukulan kaca jendela ruang panitia UN di SMP Pancasila 1 Wonogiri, Jumat (7/5). Aksi pemecahan kaca itu dilakukan oleh orangtua siswa yang mengetahui anaknya tidak lulus.

Akibatnya kejadian tersebut,  pecahan kaca berantakan di ruangan, sedangkan tangan orangtua atau pelaku berdarah. Informasi yang diperoleh Espos di lokasi kejadian, kucuran darah masih terlihat di lantai keramik sekolah. Polisi yang mendapat laporan bergegas ke lokasi SMP Pancasila 1 Wonogiri, namun pelaku yang diketahui bernama Tuyono, warga Randubang RT 02/X, Pare, Selogiri telah melarikan diri.

Di sisi lain anaknya yang bernama Sri Andriyani justru takut saat akan diajak pulang oleh ayahnya. Sri terlihat syok dan menangis di salah satu ruang kelas. Dia ditemani oleh dua rekannya yang juga tidak lulus dan dua guru yang mencoba memberikan motivasi dan menghiburnya. Sekitar pukul 15.15 WIB, Sri Andriyani dengan diantar guru dan polisi Polres Wonogiri diantar pulang.

Salah seorang warga yang juga walikelas yang saat itu ikut mengambil hasil UN anaknya, Turi menceritakan dirinya terheran-heran karena siswa-siswi SMP Pancasila 1 Wonogiri menangis setelah dari ruang kelas. “Saya melihat orangtua itu memukul kaca dan tangannya berdarah. Sesampai di luar bangunan baju miliknya dilepas untuk membungkus luka itu,” ujar Turi.

Sementara itu, pejabat Wakasek Kesiswaan SMP Pancasila 1 Wonogiri, Suhardi HS kepada wartawan mengatakan ada 46 siswa kelas IX, namun yang lulus hanya 9 anak, sisanya 37 anak tidak lulus. Dia mengaku mengetahui kejadian pemukulan kaca itu, sehingga bergegas melaporkannya ke polisi.

“Pihak sekolah segera meminta bantuan polisi dan kelihatannya pelaku mengetahui sehingga kabur,” ujarnya.

Hal berbeda terjadi di SMPN 1 RSBI Wonogiri. Di sekolah itu, para siswa dan orangtua terlihat bergembira karena lulus 100%. “Alhamdulillah tahun ini bisa lulus 100% atau 292 anak, walau sebelumnya kami diterpa isu kalau anak yang harus mengulang 17 orang, dan tiga hari sebelum pengumuman menjadi dua anak yang harus mengulang. Isu itu memukul batin kami dan setiap waktu kami berdoa agar anak-anak bisa lulus semua,” ujar H Kusman.

Dia yang didampingi pejabat Wakasek Humas, H Tri Widodo menyatakan ada 14 anak yang mendapatkan nilai 10. “Anak-anak yang mendapatkan prestasi tetap kami beri reward dan Sabtu besok SKHUN (surat keterangan hasil ujian nasional) sementara segera kami berikan, agar anak bisa mendaftarkan ke sekolah yang diinginkan. Kami pun tidak akan menahan SKHUN asli, walau administrasi sekolah belum dilunasi.”

Sebelumnya Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Wonogiri, H Suparno mengatakan ada tiga sekolah yang tidak lulus 100%, yakni SMP PGRI 15 Pracimantoro, SMP Terbuka 1 Pracimantoro dan SMP terbuka 1 Kismantoro. “Kami berharap, pengelola sekolah segera berbenah untuk mendidik anaknya agar siap menghadapi UN ulangan 17-20 Mei mendatang.”

tus

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…