Kamis, 6 Mei 2010 20:11 WIB News Share :

KPK temukan pemborosan biaya haji hingga ratusan miliar

Jakarta-– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan sejumlah titik lemah dalam penyelenggaraan ibadah haji. Salah satunya adalah dalam pengelolaan pembiayaan haji. Indikasi pemborosannya mencapai ratusan miliar.

“Jumlahnya signifikan. Ratusan miliar,” kata Wakil Ketua KPK M Jasin usai mengadakan pertemuan dengan Menteri Agama Suryadharma Ali di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Kamis (6/5).

Menurut Jasin, ada sejumlah komponen dari pembiayaan haji yang masih tidak efisien. Ia mencontohkan, dalam penggunaan alat transportasi pesawat.

“Misalnya pesawat, jumlah seatnya kan sekarang ada 440. Tapi yang digunakan hanya 350, apa nggak bisa dimaksimalkan hingga 400. Kan bisa lebih hemat biaya carternya,” tanya Jasin.

Selain itu, Jasin juga meminta agar Kementerian Agama memaksimalkan uang bunga tabungan jamaah. “Apa bunganya tidak bisa jadi pengurangan?”, imbuhnya.

Untuk diketahui, total biaya penyelenggaran ibadah haji pada tahun 2009 mencapai Rp 16 triliun. Setiap jamaah dikenai biaya hingga Rp 33 juta.

Tidak hanya soal biaya, KPK juga menemukan 48 titik lemah lain dalam penyelenggaran haji. Di antaranya terkait regulasi, tata laksana dan manajemen sumber daya manusia selama proses penyelenggaraan.

“Aspek regulasi ada 7 temuan, kelembagaan ada 6 temuan, aspek tata laksana 28 temuan, aspek manajemen SDM mencapai 3 temuan,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu, Menag Suryadharma Ali berjanji akan menjawab hasil evaluasi KPK ini dalam waktu sebulan ke depan. Menurut dia, ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Termasuk soal biaya pesawat.

“Ada perbedaan hasil analisa. Perlu diketahui, jika kami tidak pernah mencarter pesawat, tapi menghitung per kepala. Jadi meski seatnya hanya digunakan 350, tidak merubah harga pesawat,” tegasnya.

dtc/tya

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…