Rabu, 5 Mei 2010 14:15 WIB News Share :

Hendarman dinilai kurang tegas

Jakarta–Kebijakan Jaksa Agung, Hendarman Supandji yang menjatuhkan sanksi disiplin terhadap para jaksa yang terbukti tidak teliti menangani kasus Gayus Tambunan dinilai kurang tegas.

Hendarman, menurut anggota Komisi III (hukum) DPR, Eddy Amri Sitanggang dianggap terlalu menyederhanakan kesalahan. “Bapak menyederhanakan. Kan ada jenjang tanggung jawab secara hirarki,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat Kejagung dengan Komisi III di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (5/5).

Eddy menjelaskan, penjatuhan hukuman yang hanya berupa sanksi disiplin terhadap para jaksa dinilai seolah menyelamatkan para jaksa. “Ini seperti menyelamatkan (Cirus Sinaga cs),” tuturnya.

Eddy mencontohkan, jaksa Cirus pernah dikenai sanksi PP 30 tentang Disiplin PNS saat masih bertugas di Kejari Lubuk Pakam, Medan. Kala itu Cirus terbukti menyimpan kasus korupsi selama 1,5 tahun.

“Cirus tidak punya kredibilitas. Dia tidak punya track record. Tapi lalu dipertontonkan di depan umum, dijadikan jaksa penuntut umum kasus Muchdi dan Antasari. Ada apa ini?” tanya Eddy menggebu-gebu.

Hal senada juga diungkapkan anggota Komisi III lainnya, Syarifudin Suding. Ia mengatakan, sanksi yang dijatuhkan merupakan upaya penyelamatan terhadap korps Kejaksaan.

“Sanksi yang diberikan hanya hukuman disiplin atau mutasi. Menurut saya ini tindakan penyelamatan, bukan hukuman,” tegasnya.

Suding menyatakan, para jaksa seharusnya juga turut menjalani proses hukum terkait ketidakcermatan mereka. “Seharusnya diproses lewat hukum,” tandasnya.

dtc/ tiw

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…