Rabu, 5 Mei 2010 18:05 WIB Sukoharjo Share :

14 Saksi diperiksa, Kapolres sayangkan isu peluru

Sukoharjo (Espos)--Kapolres Sukoharjo, AKBP Suharyono menyayangkan maraknya isu peluru yang bersarang di tubuh Aiptu Supriyono, korban penembakan perampok yang beraksi di Toko Emas Hendra, Nguter beberapa waktu merupakan peluru standard Polri.

Hal tersebut disampaikan Kapolres ketika dijumpai wartawan, Rabu (5/5). Suharyono menambahkan, sampai saat ini belum ada kesimpulan atas jenis peluru yang melukai Supriyono meski tes labfor sudah selesai.
Masih terkait kasus perampokan, Polres saat ini telah memeriksa 14 orang saksi. Pemeriksaan itu terus berkembang dari yang semula hanya empat orang, 10 orang dan terakhir sekarang ini menjadi 14 orang.

“Memang peluru sudah diangkat, dan baru kami ketahui kalau jenisnya logam. Bukan jenis karet seperti dugaan kami sebelumnya,” jelas dia.
Suharyono menambahkan, dengan telah diperiksanya peluru, pihaknya kini tengah memeriksa asal senjata. “Sejauh ini kami memang masih terus memeriksa senjata yang digunakan pelaku. Kemudian nanti juga dikaitkan dengan beberapa peristiwa perampokan yang terjadi di tanah air. Semisal yang ada di Salatiga atau yang di Cirebon,” ujar dia. Apabila kesemuanya sudah dikaitkan, Suharyono menambahkan, barulah pihaknya bisa membuat kesimpulan.

Mengenai jumlah saksi, Suharyono menambahkan, sudah memeriksa 14 orang. “Kemarin kami sudah memeriksa 10 orang dan sekarang bertambah menjadi 14 orang. Mereka itu adalah warga sekitar yang mengetahui kejadian perampokan beberapa waktu lalu,” jelasnya.

Terkait pemeriksaan saksi, Suharyono mengaku, juga akan meminta keterangan dari Supriyono. “Kebetulan besok (hari ini), Saudara Supriyono akan dipindah ke bangsal. Dengan kondisi kesehatannya yang makin membaik, yang bersangkutan akan coba kami minta keterangan mengenai pelaku perampokan,” jelasnya.

Mengenai isu peluru yang bersarang di Aiptu Supriyono, Suharyono mengaku sangat menyayangkan. “Isu itu memang santer sekali. Dan isu itu saya tegaskan sama sekali tidak benar. Saya justru melihat ada upaya menyimpangkan penyelidikan dalam isu itu,” tandas dia.

aps

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…