Selasa, 4 Mei 2010 21:27 WIB Wonogiri Share :

Laskar Pelangi ala Wonogiri

Wonogiri (Espos)–Pengalaman hidup seperti yang dikisahkan Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi, suatu saat mungkin bisa diceritakan pula oleh Aji Santoso, Arif Setiawan dan Erwin Idewa Chandra Saputra. Entah melalui buku, novel atau sekadar cerita lisan kepada teman-teman dan anak cucu mereka kelak.

Kisah ketiga murid kelas VI SDN III Keloran itu memang tidak sama persis dengan kisah Andrea Hirata, tapi kurang lebih mirip. Bayangkan saja, selama enam tahun mereka belajar hanya bertiga dalam satu kelas. Bahkan saat Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang dimulai Selasa (4/5) kemarin pun mereka hanya bertiga, diawasi oleh dua guru pengawas dari sekolah lain.

“Dari kelas I mereka memang hanya bertiga. Sekolah ini tidak di-regroup karena jaraknya satu sama lain berjauhan sehingga akan sangat kasihan jika siswanya harus berjalan kaki lebih jauh untuk bisa sekolah. Paling dekat SD I Keloran  sekitar 2-3 km dari sini,” ungkap Kepala SDN III Keloran, Ani Dwi Budianti.

Tak heran suasananya benar-benar tenang seperti diinstruksikan tulisan pada papan peringatan Harap Tenang, Ada UASBN yang dipasang di halaman sekolah mereka. Suasana yang sama terasa di SDN IV Pare, Selogiri.

Jumlah peserta UASBN di sekolah ini lebih banyak, yaitu delapan orang. Namun, yang lebih menyedihkan, semua murid itu mengikuti UASBN dengan kondisi mata belekan. Sungguh mengagumkan karena dalam kondisi demikian, para siswa itu tidak ada yang absen. Mereka semua hadir di ruang UASBN meskipun beberapa di antaranya harus berjalan kaki cukup jauh dari rumah mereka, melewati jalan setapak berbukit.

Kepala SDN IV Pare, Hambar Sri Bandini mengungkapkan, empat dari delapan siswa itu tinggal di Dukuh Ngringin yang jaraknya 2-3 km dari sekolah. Tiap hari mereka berjalan kaki ke sekolah, tapi tak satupun yang mengeluh dan mereka selalu rajin. Tidak pernah terlambat.

“Kami kasihan sekaligus bangga dengan semangat mereka. Selama UASBN ini kami menyediakan snack dan susu, untuk njagani kalau mereka tidak sarapan dari rumah lalu tidak bisa mengerjakan soal karena lelah dan lapar. Orangtua mereka kebanyakan merantau,” kata Hambar.

Salah satu siswa SDN IV Pare, Agustina Wiji Lestari mengaku merasakan sakit pada matanya yang terkena flu atau belekan. Pandangannya juga kabur. “Tapi saya tidak mau ketinggalan apalagi sampai tidak lulus,” katanya.

Camat Selogiri, Bambang Haryanto, kemarin langsung mendatangkan dokter dan petugas kesehatan dari Puskesmas untuk mengobati para siswa yang sakit mata itu. Seusai mengerjakan soal UASBN, mereka diberi tetes mata. Harapannya, hari kedua UASBN, kondisi mereka tidak tambah parah.

“Itulah potret sekolah di daerah terpencil. Pemerintah selama ini kurang memperhatikan mereka,” ujar Bambang.
Mengenai UASBN Bambang mengatakan pihaknya selalu menekankan kejujuran. Berapapun siswa yang lulus maka memang itulah kualitas mereka.

shs

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…