Senin, 3 Mei 2010 14:05 WIB News Share :

ICW Tengarai DPR lakukan kebohongan publik sebut gedung miring

Jakarta-– Gedung DPR ternyata tidak miring. Berdasarkan analisa Kementerian Pekerjaan Umum (PU) hanya mengalami rusak ringan. Tak pelak pernyataan anggota DPR soal gedung miring itu dinilai hanya alasan untuk membuat proyek.

“Itu kebohongan publik yang harus dikritisi. Alasan yang diungkapkan tidak benar. Jangan sampai ini menjadi praktek baru di Indonesia, untuk membangun proyek,” terangĀ  Wakil Koordinator ICW Adnan Topan Husodo saat dihubungi detikcom, Senin (3/5).

Dia menjelaskan, kalau kemudian ternyata rekomendasi meminta perbaikan saja, tidak perlu sampai membuat gedung baru.

“Kalau memang ingin mengadakan kebutuhan gedung baru, harus didasarkan argumentasi yang kuat sebagai dasar alasan kemiringan. Jangan sampai muncul dugaan tidak sedap dari masyarakat. Jadi kalau tidak cukup kuat alasannya, tidak perlu digolkan,” terangnya.

ICW menduga, pembangunan gedung baru Rp 1,8 triliun itu justru jadi alasan bagi oknum tertentu untuk mencari keuntungan.

“Ketika bicara proyek kita bicara para pencari rente, yang kita duga ada di institusi DPR atau juga kesekjenan,” tambahnya.

Dia menegaskan, karena itu salah satu alasan korupsi sulit diberantas, karena institusi pembuat undang-undang juga masih rentan dengan praktek itu. Salah satunya modus menggolkan proyek besar untuk mendapatkan fee.

“Kenapa korupi sulit diberantas? karena produsen kebijakannya bermasalah. Kalau kemudian praktek ini terbiasa dan turun temurun,” tutupnya.

dtc/tya

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…