Minggu, 2 Mei 2010 19:33 WIB Ekonomi Share :

Produk akhir kain lurik berpotensi ekspor

Solo (Espos)–Meski berpotensi ekspor, pengembangan kain lurik di Soloraya masih terkendala produk akhir yang belum berkembang. Sehingga apresiasi masyarakat terhadap kain lurik juga masih kurang. Selain itu, masih banyak pelaku industri lurik di Soloraya yang belum memiliki jaringan untuk ekspor. Hal ini disampaikan Advisor Livelihood GTZ, Budiyono Darmawan, saat ditemui Espos di sela-sela Gelar Kain Nusantara di Grha Soloraya, Sabtu (1/5).

“Kemampuan mewujudkan produk akhir kain lurik yang memiliki kualitas dan nilai jual tinggi masih sangat langka. Inilah yang menjadi kendala pengembangan kain lurik terutama di industri-industri kain lurik di daerah terkena gempa Mei 2005,” papar Budiyono.

GTZ dalam membina industri kain lurik di Tegalrejo, Bayat, Klaten, kemudian Burikan, Cawas, Klaten serta Grogol Sukoharjo, menggandeng desainer untuk membuat desain baju lurik yang berkualitas tinggi.

“Dengan desain yang unik dan memberikan kesan spirit yang tinggi, maka kain lurik berpotensi untuk ekspor meskipun saat ini belum konsentrasi ke arah sana. Industri ini perlu konsentrasi terlebih dahulu di pasar domestik untuk meraih apresiasi masyarakat.”

Yang sudah terjadi sejauh ini, adalah buyer yang sudah tahu, datang sendiri ke lokasi industri. Kain lurik, disampaikannya memang sangat berpotensi ekspor. Hal ini terlihat saat beberapa industri lurik di Klaten dan Sukoharjo mengikuti pameran Inacraft di Jakarta beberapa waktu lalu.

haw

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…