Sabtu, 1 Mei 2010 23:49 WIB Solo Share :

Said Aqil
NU tak akan glamor

Solo (Espos)–Ketua PBNU periode 2010-2015 KH Said Aqil Siraj menegaskan, di bawah kepemimpinannya NU akan dikembalikan pada Ormas yang bernuansa pesantren sederhana.
Bukan seperti kepengurusan sebelumnya yang masih mengesankan NU glamor dan jauh dari pesantren.

Salah satu contoh kecil dan konkretnya menurut Said, banyak kegiatan NU yang dilakukan di hotel. Padahal sebelumnya selalu mendekat di lingkungan pesantren. “Kelihatannya remeh tetapi dari hal itu menimbulkan kesan NU jauh dari pesantren,” ujarnya saat dijumpai Espos dalam salah satu acara ‘Peace Youth Program; Peace, Tolerance, and Harmony in Deversity Among Religions and Nations’ yang digelar oleh Fatayat NU bersama Global Peace Makers dan Sangga Buana Solo, di Kusuma Sahid Prince Hotel Solo, Sabtu (1/5).

Mengapa kembali ke pesantren yang sederhana lanjut Said, pasalnya selain ilmu agama, pesantren mengajarkan kemandirian, tidak materialistis, tidak pragamatis serta persaudaraan.  Konkretnya seperti NU di masa kepemimpinan KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

“Bahkan inginnya lebih dari Gus Dur. Intinya revitalisasi NU yang memiliki jati diri dan nilai kesantrian,” katanya.

Menurut Said, dari pesantren sederhana itu jua, kemudian lahir para intelektual yang memiliki moralitas lebih baik ketimbang yang berasal dari luar pesantren. “Nyuwun sewu kalau saya boleh kritik, pesantren model modern saat ini juga kurang mengajarkan kesederhanaan,” katanya.

Terkait dengan penyusunan pengurus PBNU, Said menampik anggapan bahwa dalam penyusunannya tidak melibatkan formatur.  Menurut Said sesuai AD/ART, penyusunan pengurus menjadi otoritas dan wewenang mandataris, ketua umum dibantu formatur.
Jika ada ketidakpuasan bahkan ingin membuat NU tandingan, Said juga mempersilakan. “Silakan, NU tetap tahan banting,” ujarnya.

fey

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…